01. Awal pertemuan
Jakarta, 20 oktober 2024
Pukul 15.00, sore hari
Pindah nya pekerjaan ayahnya di sepuluh tahun yang lalu mengubah hidup Kalila dengan signifikan, termasuk soal rutinitas dengan anak laki laki di depan rumahnya waktu itu yang biasanya ia dipanggil dengan nama Kaisal. Dulu ia kerap sekali menghabiskan waktunya dengan Kaisar, bermain di taman dekat rumahnya bersama Kaisar, belajar bersama, pergi ke mall bersama bundanya dan membeli buku dan kemudian akan dibaca bergantian setelah sampai di rumah. Hidup Kalila semasa kecil sering di titipkan di rumah anak laki laki itu karena orang tuanya yang menghabiskan waktu seharian di kantor, tetapi semenjak ada kabar bahwa ayahnya harus berpindah tugas, Kalila terpaksa harus berpisah dengan anak laki laki itu dan ikut dengan orang tuanya menempati rumah baru yang terletak di luar kota. Perpisahan itu hanya meninggalkan kesedihan bagi Kalila sampai bertumbuh dewasa pun Kalila tidak mengetahui kabar tentang anak laki laki yang dekat dengan nya dulu dan membuat hubungan dengan teman masa kecilnya mulai perlahan pudar.
Dan kini, setelah lebih dari sepuluh tahun berlalu, Kalila tidak pernah mengira bahwa ia kembali pada rumah lamanya ini.
Kini perempuan itu menatap kotak-kotak kardus yang tersusun ke atas memenuhi bagian kamarnya, ia menghela nafas sebentar. Sore ini dia baru saja selesai membawa sisa barang pribadinya ke rumah setelah tadi pagi hanya perabotan rumah dan barang barang milik orang tuanya di angkat kemari. Kali ini Kalila sendirian di rumah itu, lantaran dua orang tuanya masih bergelut di kantor masing masing.
Ini adalah hari pertama kepindahannya setelah 10 tahun lebih meninggalkan rumah masa kecilnya ini, ternyata hampir tidak ada perubahan, hanya saja warna cat di dinding yang agak sedikit pudar dan agak terasa lembab, dan sisanya tetap terasa seperti dulu.
Kalil itu melangkahkan kakinya menuju rak buku yang hanya terdapat beberapa pigura dan buku buku lawas di sana, mengambil pigura itu dan melihat dengan seksama. Mata menangkap dirinya sewaktu kecil pada sebuah pigura yang kaca cukup kotor, dahi nya menyerit dan raut wajahnya pun bingung, bingung dengan siapakah dirinya di foto ini, seorang anak laki laki yang ia rangkul dengan wajah datarnya sedangkan pada foto itu kalila tersenyum ceria. Kalila mencoba mengingat ingat siapa saja teman masa kecilnya pada saat itu, terlintas satu nama anak laki laki di kepalanya, namun Kalila sendiri cukup ragu, apakah memang benar ini merupakan laki laki yang sedang ia ingat di kepalanya?.
Namun siapa nama laki laki itu?
Kaisan bukan?
sepertinya bukan.
Kaisel?
Sepertinya bukan juga.
Atau Kazar? Seperti juga bukan.
Kalila menggelengkan kepalanya, sudahlah, dirinya tidak ingat, di paksa juga percuma, namun Kalila tetap saja merasa penasaran, dalam hatinya ia bertanya tanya, kemana kah laki laki itu sekarang?, apakah masih berada di rumah yang sama?.
Kalila, kembali meletakan kembali pigura kecil tersebut dan isi kepalanya berusaha melupakan tentang foto laki laki yang baru saja ia lihat. Dan kembali dengan kardus kardus yang harus ia merapikan sore ini agar nanti ia bisa tertidur dengan nyenyak.
"Kalila?" Panggil seorang wanita paruh baya lengkap dengan seragam kantornya itu.
Lamunan Kalila buyar seketika saat melihat bundanya berdiri di pintu kamarnya "eh bunda sudah pulang" ucap kalila sambil tersenyum dan menyalami tangan sang bunda.
"tolongin bunda ya, kasih ini ke tetangga depan rumah kita ya " Bunda sambil memberikan kotak berwarna putih berisi cookies itu ke hadapan Kalila.
"tetangga depan rumah? Siapa bund?, Jangan deh bund, Kalila kan enggak kenal " ucap kalila sambil menerima bingkisan kecil itu, raut wajahnya tampak bingung.
"astaga, depan rumah kita itu rumah Kaisar. Kamu kan sudah kenal akrab sama keluarganya, ayo tolongin mama " Ujar Bunda.
Dahi Kalila menjerit mendengar nama Kaisar, dalam hatinya mendadak bertanya tanya, apakah Kaisar itu merupakan laki laki yang berada di pigura yang sama dengannya tadi? "Kaisar?, Bund tanya deh, yang di pigura itu Kaisar nama nya?" ucap Kalila dengan cengiran khasnya itu.
Bunda mendekati raka buku tersebut, sedetik kemudian ia menganggukan kepalanya "iya ini Kaisar, temen main kamu dulu, masa lupa sih?"
Isi kepala Kalila langsung berputar pada momen momen dirinya sewaktu kecil dengan anak laki laki itu dan juga perpisahan dengan Kaisar. Kini Kalila sudah mendapatkan jawaban nama anak laki laki tersebut. "dia masih di rumah yang sama? ya bund?" Tanya Kalila.
Bunda menganggukan kepalanya "iya, mangkanya sekarang bunda minta tolong sama kamu anterin ini ke rumah Kaisar, siapa tahu kamu juga ketemu sama dia?, udah lama banget lo kalian pisah"
Kalila menganggukan kepalanya. Setelah bundanya meninggalkan kamar itu, kalila terdiam sebentar, namun gema di jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Entah mengapa dirinya menjadi agak gugup seperti ini, apakah ini efek dari lamanya ia tidak bertemu dengan Kaisar?. Selain gugu dirinya juga mendadak overthinking, bagaimana bila nanti dirinya bertemu dengan laki laki? apakah tidak canggung? apakah laki laki itu mengingatnya?. Kalila menjadi mendadak ragu, rasa-rasanya ia tidak ingin mengantarkan makanan ini saja. Namun ini juga merupakan satu kesempatan bagi Kalila untuk bertemu dengan Kaisar dan menuntaskan rasa penasaran, seperti apa Kaisar sekarang? apakah menjadi lelaki yang biasa saja? atau justru menjadi laki laki dengan tampang sempurna dan agak berwibawa?.
Kalila menghela napas. Sudahlah, lebih baik ia mengantarkan ini dulu daripada harus mendengar omelan bundanya. Ia pun melangkah keluar, membuka gerbang, dan sejenak menikmati udara sore yang begitu ia rindukan—tempat masa kecilnya dulu.
Namun langkahnya terhenti. Di depan rumah, seorang laki-laki tinggi dengan kaus hitam sedang menyiram tanaman. Kalila menyipitkan mata, memperhatikan sosok tegap itu dari belakang, Kalila sama sekali tidak mengenal perwakanya, isi kepalanya mendadak menebak nebak laki laki yang sedang menyiram tanaman itu.
Atau jangan jangan ini merupakan Kaisar? Kalo betulan laki laki itu, Kalila cukup terkejut dengan perubahan Kaisar, dari belakang saja sudah terlihat sempurna, bagaimana kalo tampak depan?. Tapi dalam satu waktu Kalila juga merasakan keraguan, apa iya Kaisar berubah menjadi seperti ini? apa mungkin laki laki itu tumbuh dewasa dengan begitu tampan nya?.
Kalila mencoba menarik nafas nya dan menghembuskan dengan perlahan untuk mengurai rasa gugupnya yang mendadak muncul kembali ke permukaan. Sudahlah entah itu Kaisar atau bukan yang jelas tujuan Kalila saat ini hanya memberikan barang yang ada di tangannya ini, hanya itu saja. Kemudian Kalila membuka pagar rumah nya, kakinya mulai berjalan perlahan menghampiri laki laki bertubuh tegap itu, jantungnya berpacu lebih cepat dari biasanya, kalo itu memang benar laki itu adalah Kaisar, maka lunas sudah rasa keingintahuan dalam dirinya.
"permisi mas, ini rumah ibu lily bukan" Tanya Kalila sambil tersenyum menunjukan deretan giginya.
Kaisar yang merasa terpanggil, membalikan badanya, melihat seorang gadis dengan rambut panjang dan tingginya yang hanya sampai di bagian dadanya, laki laki itu menyerit dahinya bingung dengan kedatangan makhluk asing depannya ini.
"iya, dengan siapa?" Ucap Kaisar sambil menolehkan kepalanya, menatap perempuan di sampingnya.
Pada detik itu, Kalila merasa dunia miliknya sedang bergerak melambat, matanya menangkap struktur wajah laki laki itu yang sangat mirip dengan foto yang ada di pigura kamar miliknya, struktur wajah Kaisar begitu tegas dan dewasa, hidung nya mancung sekali. Wah ternyata betulan menjadi tampan.
"mbak?" Tanya Kaisar.
"oh iya maaf, ini mau nganterin makanan dari bunda" Ucap Kalila sambil menyodorkan barang bawaan tersebut. Sambil menyodorkan barang tersebut Kalila diam diam beratnya, apakah laki laki ini tidak mengingat dirinya? apakah laki laki ini memiliki ingatan jangka pendek? apakah dirinya ini se tidak berharga itu di matanya dan begitu mudah melupakanya?.
"oke, makasih ya mbak...?" Ucap Kaisar menggantung.
"panggil Kalila aja, nggak perlu mbak" Ujar Kalila.
Kaisar terdiam sebentar, kemudian menatap wajah perempuan itu, seolah olah berusaha mengingat kenangan yang sudah lama terpendam. Namun karena Kaisar tidak mau berbasa basi, laki laki itu memutuskan untuk mengucapkan terimakasih saja.
"oke, thank you ya, nanti gue sampein bunda"
Kalila hanya menganggukan kepala dengan gerakan kaku, sepertinya laki laki itu tidak mengiat diirinya, rasa rasanya Kalila ingin sekali melemparkan batu ke kepala laki laki itu. Dua kata untuk Kaisar yaitu sombong dan pelupa. Kalila mendadak heran, apakah ini laki laki yang digadang gadang selalu membawa piala ketika selesai perlombaan? tapi apa barusan? dengan dirinya saja sudah lupa.
"oke kalo gitu ak-" Ucapan kalila mendadak terputus wanita paruh baya yang nampak anggun sekali dan cantik walau hanya sekedar memakai baju rumahan
"loh Kalila?, Kamu Kalila bukan? " Panggil mama lily.
Wajah Kalila yang datar datar saja tadi, langsung mengubah ekpersianya menjadi ramah, menyambut kehadiran seorang perempuan paruh baya dengan penuh semangat. Sepertinya ini ibu nya Kaisar.
" eh iya tante, ini saja Kalila?" Sambut Kalila sambil tersenyum.
" oh iya Kalila? ya ampun sudah besar, sudah cantik sekali sekarang" Tanya mama lily.
Kalila mengangguk kaku, mendadak tidak enak dirinya dipuji sebegininya " hehe iya tante terima kasih, ini tadi Kalila nganterin makanan dari bunda"
Lily menerima kantong tersebut dari tangan Kaisar " oh iya iya, terima kasih yaa, bunda kamu tuh tau banget deh tante sukanya apa"
Berbeda dengan Kaisar, cowok itu sedari tadi diam, memperhatikan 2 perempuan itu bercengkrama ,seharusnya laki-laki itu tidak berdiri di sini, walaupun begitu ia tidak bisa berbuat apa apa selain menunggu mamanya selesai mengobrol dengan gadis aneh di sampingnya itu.
" Eh Kaisar!, ini Kalila loh!, kamu masih ingat dia kan?, dia temen masa kecil kamu lo, dulu teman main kamu cuma dia, kamu kan susah bergaul dulu" ucap mama lily.
Kaisar hanya diam saja, tidak merespon sama sekali.
Mama lily menghela nafas perlahan " haduh, Kalila, kayaknya dia gengsi deh, maklumin anaknya cuek dan gengsian, sekarang kamu masuk ya!, tante habis masak loh, sekalian makan siang sama kaisar, ayok" ucapnya sambil menggandeng tangan kalila, mengajak anak perempuan itu untuk masuk ke dalam rumah.
Kaisar mendengus pelan mendengarkan argumen mamanya tersebut, sebenarnya laki laki itu ingat siapa gadis yang menyapa nya tadi, tapi kaisar tetaplah kaisar, tapi dirinya ogah untuk basa basi.
Haii, bersambung dulu yaa!, sampai ketemu kaisar dan kalila di episode ke dua, semoga di epidose pertama kalian suka yaa dengan ceritanya🩷💙
.jpg)
.png)
Komentar
Posting Komentar