01. Kalin Mireya Khaizure

 

Namanya Kalin. Kalin Mireya Khaizure. Sewaktu kecil, Kalin pernah melihat dirinya di depan cermin dan berkata bahwa dirinya bermimpi ingin menjadi terkenal seperti tokoh-tokoh yang biasa ia lihat di dalam televisi rumahnya. Namun, mimpi itu tidak pernah Kalin ungkap kepada siapa pun. Setiap mendapatkan pertanyaan besar nanti akan menjadi apa, Kalin akan selalu menjawab menjadi dokter. Kemudian, di pertanyaan selanjutnya, Kalin akan mengganti jawabannya menjadi guru.

Mengapa begitu?

Karena sejatinya, Kalin versi kecil belum memahami apa arti dari sebuah keterkenalan. Ia tidak benar-benar mengerti apa itu menjadi terkenal, bagaimana caranya, atau apa yang ada di baliknya. Yang ia tangkap hanyalah potongan-potongan kecil yang terlihat indah di layar televisi. Kalin kecil sebetulnya tidak sedang bermimpi untuk menjadi terkenal. Ia hanya membayangkan sebuah versi dirinya, seseorang yang terlihat cantik, rapi, dan menarik, seperti tokoh-tokoh yang ia lihat. Namun, karena ia belum memiliki bahasa untuk menjelaskan perasaan tersebut dan belum memahami bahwa itu bisa menjadi sebuah cita-cita.

Selain menjadi terkenal, Kalin menyimpan banyak sekali cita-cita dalam dirinya, mulai dari dokter, guru, polisi, pilot, hingga perawat. Cita-cita yang begitu terdengar familiar pada anak seusianya. Namun, seorang anak kecil bernama Kalin pada saat itu tidak betul-betul menyebutkan cita-citanya dari dalam hatinya. Sejak kecil, Kalin selalu ragu bila ditanya cita-citanya. Ia hanya memilih mimpi yang sering disebutkan teman-temannya, tetapi sebetulnya bukan yang Kalin inginkan. Yang Kalin inginkan hanyalah menjadi terkenal. Sejak saat itu, Kalin selalu mencari tahu makna dari kata "terkenal" itu dan mulai menghabiskan waktu di depan televisi saat berlibur, sambil mencari apa makna terkenal itu.

Memasuki Sekolah Menengah Pertama, ada satu hal yang paling ia sukai dan ia lakukan, yaitu menulis sebuah cerita. Awalan sederhana dalam menemukan mimpinya. Hanya cerita-cerita pendek yang dibuat dari imajinasinya sendiri, terinspirasi dari apa yang selama ini ia lihat di layar televisi. Tanpa disadari, Kalin mulai menikmati proses itu. Ia tenggelam dalam imajinasinya, menciptakan tokoh, alur, dan dunia versinya sendiri.

Dari situlah Kalin perlahan menyadari sesuatu. Selama ini, bukan sekadar menampilkan tokoh-tokoh yang ia kagumi. Ada sesuatu yang lebih dalam, cara mereka hidup dalam sebuah cerita dan cara mereka menjadi bagian dari sebuah karya.

Dan sejak saat itu, Kalin mulai memahami dirinya, bahwa dirinya selama ini selalu berdiri pada bidang kreatif. Kalin sangat suka berkarya, berekspresi, berimajinasi, menggambar, hingga membaca buku. Hal yang selama ini terasa samar akhirnya menemukan bentuknya. Seperti tokoh-tokoh yang Kalin sukai di televisi, sebagian besar dari mereka memiliki sisi seperti diri Kalin versi kecil, yaitu kreatif dan suka berkarya. Makna terkenal yang dulu ia bayangkan pun perlahan berubah. Bukan sekadar dilihat oleh banyak orang, melainkan menjadi seorang yang bisa berkarya.

Dan itu sudah berlalu bertahun-tahun lamanya. Hari ini, Kalin telah menjadi mahasiswa ilmu komunikasi di salah satu universitas di Jakarta. Mimpi yang sudah ditanamkan sejak kecil tetap konsisten sampai ia kini berstatus sebagai mahasiswa di tahun ketiga. Kalin memilih jurusan ilmu komunikasi sebagai pedoman dirinya untuk terus berkarya dan belajar mengenai ilmu-ilmu baru yang sebelumnya tidak pernah Kalin dapatkan. Mengingat-ingat kembali apa yang dirinya inginkan pada masa kecil ketika dewasa, membuat Kalin terharu dalam proses hidupnya.

"Gimana project filmnya? Lancar? Ada lagi yang dibutuhkan?" Kaelan baru saja muncul di tengah lamunan Kalin melalui percakapan sambil mengambil piring untuk sarapan pagi ini.

"Lancar kok, besok udah bisa mulai syuting. Abang mau ke kantor sabtu-sabtu gini?"

Sambil mengambil lauk-pauk dari tempatnya, Kaelan menanggapi adiknya itu, "Iya, abang harus ngelembur, tapi bentar kok, sorean nanti pulang. Kenapa?"

Kalin hanya menggelengkan kepalanya sebagai pertanda tidak apa-apa. Barusan merupakan kakak laki-lakinya. Sedikit informasi mengenai kakaknya, Kaelan adalah laki-laki workaholic. Setiap harinya, laki-laki itu hanya menghabiskan waktu di depan berkas-berkas kantornya, tidak kenal hari libur. Maka dari itu, di usia yang sudah matang ini, kakak laki-lakinya tidak pernah membawa perempuan ke rumahnya karena hidupnya terlalu berkutat dengan urusan kantornya. Kalin sempat menduga-duga bahwa kakaknya telah menyimpang dari garis yang ditetapkan, akan tetapi sepertinya dugaannya juga tidak mendasar sama sekali karena dirinya pernah melihat majalah dewasa di kamar laki-laki tersebut.

Kaelan merupakan anak pertama dari keluarga Khaizure. Kini, kakaknya bekerja sebagai budak korporat di salah satu perusahaan di Jakarta yang diketahui namanya adalah Averion Corporation. Perusahaan yang bergerak pada bidang properti komersial yang berfokus pada coworking space, ruko, kios, dan sebagainya. Kalin sangat bersyukur dengan adanya Kaelan dalam hidupnya. Selama Kalin bingung dengan arah hidupnya, selain kedua orang tuanya, Kaelan juga memberikan peran penting. Mungkin karena perbedaan umur, dirinya mampu membuat kakak laki-laki memiliki segudang pengalaman untuk diajarkan kepada dirinya.

"Sampe jam berapa di kampusnya? Mau abang jemput?"

Kalin tampak berpikir, "Nggak tau, Bang. Harusnya sampe sore sih, nanti aku telepon aja deh."

"Oke kalau gitu, pagi ini kamu diantar Pak Tanto aja ya ke kampus. Nanti sore biar abang yang jemput. Abang buru-buru soalnya, nggak bisa anter kamu pagi ini."

Kalin menganggukkan kepalanya. "Iyaaa, abanggg. Enggak apa-apa. Kalin juga mau berangkat. Duluan ya. Assalamualaikum."

"Wa'alaikumussalam. Hati-hati."

-----

Inilah kehidupan Kalin. Tahun ini Kalin sudah berada di semester 6, dan kewajibannya adalah menyelesaikan praktikum film sebagai tugas akhir semesternya bersama dengan timnya. Dan sekarang dirinya harus pergi ke kampus untuk berdiskusi dengan tim Niskala dan para volunter yang diajak bekerja sama untuk menyelesaikan syuting di esok hari.

Sejak kecil hingga kini, Kalin sangat menyukai hidup yang ia jalani. Ia menyukai hidupnya karena ia juga menikmati cara ia menjalaninya. Sejak kecil, Kalin tidak pernah berhenti mencari tahu dan mempelajari hal-hal yang ia sukai, hingga pada akhirnya ia mampu melihat dunia dengan caranya sendiri.

Kalin tidak pernah merasa terbebani oleh pencapaian orang-orang di sekitarnya. Ia percaya bahwa setiap orang memiliki jalannya masing-masing, termasuk dirinya. Baginya, hidup adalah cermin; saat satu jari menunjuk orang lain, tiga jari lainnya justru mengarah pada diri sendiri.

"Tumben ke kampus jam segini, Non? Ada acara ya?" tanya Pak Tanto.

"Iya, Pak. Soalnya hari ini saya mau ada rapat sama anak-anak Niskala buat syuting besok," jawabnya.

"Oh gitu, Non. Syuting apa, Non, kalau boleh tahu? Film-film romantis gitu, bukan? Yang biasanya Bapak tonton di televisi itu, bukan?"

Kalin terkekeh. "Bukan, Pak. Kali ini nama project filmnya Silaturasa."

Pak Tanto mengerutkan dahinya. "Silaturasa? Apa itu, Non? Kok kayak acara makan-makan gitu, tapi kayaknya juga bukan, deh?"

"Bener kok, Pak, acara makan. Jadi Silaturasa itu diartikan sebagai silaturahmi ke tempat kuliner yang belum banyak orang ketahui dengan konsep traveler & kuliner. Tempatnya nanti ada di pedesaan gitu, Pak, Desa Ngawonggo namanya."

Pak Tanto tersenyum. "Wah, kayaknya konsepnya menarik, Non. Bapak jadi pengin tahu detail konsepnya. Kebetulan anak Bapak juga suka banget buat-buat film gitu, Non. Filmnya kalau udah selesai bisa saya tonton nggak ya, Non?"

"Boleh, Pak. Nanti saya kasih filenya, ya, buat Bapak lihat."

"Wih, siap, Non. Siap, Bapak tunggu kalau gitu."

Di project filmnya kali ini, Kalin berperan sebagai penulis dan sutradara. Kalin sangat menyukai perannya kali ini. Ini yang Kalin inginkan sejak praktikum satunya. Meskipun sebelum berani mencoba menjadi sutradara ia sempat ragu dengan keinginannya, ragu dan takut mengecewakan orang-orang sekitar, terutama dirinya sendiri.

Begitulah Kalin. Meski dia menyukai hidupnya, dia tidak bisa menyangkal bahwa akan ada setiap ketakutan yang menghantuinya pada saat ada hal-hal yang ingin dia coba. Meski pada mulanya ia memiliki ketakutan dan keraguan, teman-teman Niskalanya mendukung Kalin untuk menjadi sutradara di project kali ini. Menurut mereka, Kalin sudah cukup baik menjadi sutradara. Selama ini perempuan itu selalu membuat konsep dan menulis jalan cerita dengan menarik. Maka dari itu, setelah konsep matang dengan sempurna, Kalin begitu menyukai perannya kali ini, karena hal baru ini akan membawanya ke dalam sebuah pelajaran baru dalam hidupnya.

"Sudah sampai, Non. Mau saya tunggu saja atau bagaimana, Non?"

Kalin segera bersiap. "Bapak pulang saja, sepertinya nanti saya dijemput Kaelan."
"Baik, Non. Hati-hati ya, Non."

Kalin tersenyum, kemudian keluar dari dalam mobil tersebut. Pagi itu, kampus belum terlalu ramai. Kalin melangkah memasuki area gazebo kampus dan mendaratkan dirinya di sebuah gazebo besar yang terlihat asri. Di sinilah ia dengan teman-teman Niskalanya dan para volunternya berdiskusi mengenai syuting untuk esok hari. Sudah ada beberapa teman-teman Niskalanya, yaitu Sekar, Pandu, dan Wisnu. Sepertinya mereka sudah lebih lama berada di tempat ini.

"Tumben lo on time, Pan?" tanya Kalin langsung kepada Pandu.

"Kok nyindir gitu sih muka lo, Kal? Salah nih gue on time?" kata Pandu sambil terkekeh.

"Nggak, bukan gitu. Tumben aja. Biasanya jam segini kan lo masih tidur dan berujung datang paling telat," jawabnya.

"Semalem enggak bisa tidur dia, Kal. Biasa, Pandu kan sukanya begadang. Kayaknya kebanyakan mikirin lo, deh, Kal," ujar Wisnu tidak serius.

"Masa sih, Pan? Iya, tau kok gue itu emang menarik banget di mata lo, tapi jangan dipikirin sebegitunya lah," jawab Kalin sambil tertawa.

Pandu menggelengkan kepalanya. "Tapi sumpah, deh, serius. Gue semalem nggak bisa tidur. Padahal minum kopi cuma dua gelas doang. Biasanya jam 4 udah ketiduran. Hari ini gue nggak bisa tidur sama sekali."

"Cuma kata lo? Dua gelas lo itu, Pandu, dua gelas!" seru Sekar.

Pandu hanya terkekeh. Hidup Pandu memang sudah terlalu keras di dalamnya.

"Pandu, jaga kesehatan lo. Besok kita mau syuting, loh, Pak Produser," peringat Kalin.

"Iya, siap, Bu Sutradara. Maaf, deh, nggak gitu lagi."

Beberapa saat kemudian, terdengar beberapa langkah kaki yang menuju ke tempat Kalin dan teman-temannya. Ternyata beberapa volunter dan sisa tim Niskala, yaitu Surya dan Putra, baru saja datang.

"Halo, Kak Kalin. Apa kabar? Nungguin Naren ya dari tadi?" kata Naren sambil duduk di samping Kalin.

Kalin hanya melirik ke arah laki-laki itu. Barusan itu yang menyapanya dengan percaya diri itu namanya Naren, volunter di project film kali ini. Naren kebetulan berteman baik dengan Anna, yaitu sahabatnya. Anna sengaja menawarkan Naren sebagai volunter kepada Kalin karena pada saat itu Niskala membutuhkan volunter yang mahir menggunakan stabilizer dan drone untuk kebutuhan syuting mereka, dan bertepatan pada saat itu kebetulan Naren sedang tidak sibuk-sibuknya.

"Berondong semenarik itu kenapa enggak di gas aja sih, Kal?" ujar Sekar.

Kalin menggelengkan kepalanya. Ada gilanya memang si Sekar itu.

"Kak, jawab dulu," tanya Naren sambil memberinya senyum kagum.

"Baik, Naren. Kita enggak ketemu berapa hari sih?"

"Dua hari, Kak, hehe."

Kehadiran Naren sebagai volunter di timnya mengubah hidup Kalin cukup signifikan, termasuk rutinitasnya di kampus. Kalin sudah mengenal Naren cukup lama, sekitar tiga bulan. Sebelum bertemu dengan Naren, hidup milik Kalin hanya sebagai mahasiswa yang membosankan: kuliah, mengikuti organisasi, menghabiskan uangnya untuk membeli buku baru, menghabiskan waktunya seharian di kamar untuk menonton film, dan tidak memiliki kisah-kisah romantis di dalamnya.

Hanya pernah sekali sewaktu ia menjadi mahasiswa baru, alih-alih menjadi laki-laki yang tepat, namun ternyata salah besar. Laki-laki itu tidak pernah serius, datang dan pergi sesukanya. Kalin sudah enggan untuk percaya lagi dengan laki-laki untuk saat ini. Sekarang yang hanya Kalin mau adalah melakukan perjalanan barunya sambil menyembuhkan hatinya perlahan-lahan.

Namun sejak adanya Naren, hidup Kalin yang awalnya terasa biasa saja kini memiliki satu warna. Walaupun warna tersebut tidak terlalu menarik bagi Kalin, tapi ia menyukai fase seperti ini karena seperti kembali mengenal perasaan yang pernah ia alami dulu, namun harus tetap memiliki batasnya. Kalin menyukai manusia dan Kalin juga senang mengobservasi perasaan manusia.

"Dua hari aja gaya lo kayak enggak ketemu sebulan," sindir Wisnu.

Naren menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Kakak udah sarapan belum?"

"Sudah tadi pagi," jawab Kalin sambil memberikan draft naskah untuk syuting di esok hari kepada beberapa volunter, termasuk kepada Naren.

"Kalau siang pasti belum, kan? Nanti makan siang sama gue ya, Kak. Sekalian gue anterin pulang."

"Gue enggak makan siang. Lo aja lah. Ngapain ajak-ajak gue?" tanya Kalin sambil menatap Naren.

"Emang enggak boleh ya ajak orang yang disuka buat makan bareng?" Naren tersenyum sambil membolak-balikkan draft yang baru saja diberikan Kalin.

"Iya boleh, tapi kita kan belum kenal-kenal amat," sahut Kalin.

"Ya gimana mau kenal. Gue dari kapan itu udah coba cari waktu yang pas buat berduaan sama lo, tapi susah banget. Makanya ayo makan siang bareng," ujar Naren yang berhasil mendapatkan sorakan dari anak-anak Niskala.

Kalin menatap ke arah lain. Inilah yang Kalin maksud warna baru dalam hidupnya, warna baru yang tidak terlalu menarik baginya. Namun Kalin tetap menikmati keberadaan warna tersebut. Membiarkan laki-laki lebih muda itu untuk memberi warna di dalam hidupnya.

"Udah-udah, ini udah pada kumpul semua. Ntar aja lo modusnya lagi. Sekarang kita mulai dulu ya. Jadi gimana, Kal? Bisa lo jelasin konsepnya project kita besok?" ujar Pandu.

"Jadi project film kita namanya Silaturasa. Intinya tuh kita ngajak orang buat silaturahmi ke tempat-tempat kuliner yang belum banyak orang tahu, dengan konsep jalan-jalan dan makan," jawab Kalin.

"Nah di project ini, kita bakal ngajak talent buat nyari makna 'asah, asih, asuh' yang ternyata ada hubungannya sama sejarah Tomboan Ngawonggo. Fokusnya sih ke travelling kuliner, jadi kita bakal datengin tempat itu, terus di sana talent diajak eksplor makanan khasnya, mulai dari rasanya yang unik sampai cerita sejarah dan filosofi di balik makanan-makanan itu."

"Oh jadi ini konsepnya traveler kuliner gitu ya?" Naren bertanya sambil membaca draft tersebut.

"Bener. Tujuan utama kita sebenarnya mau ngenalin sejarah dan budaya Patirtaan Ngawonggo sama filosofi Tomboan, sambil ngajak orang lebih sadar pentingnya cagar budaya dan belajar hidup sederhana," kata Wisnu.

"Dan oh iya, seperti yang udah gue sampaikan minggu lalu, kalau kita syutingnya di Malang. Jadi gue sama anak-anak Niskala sepakat buat ambil jadwal penerbangan pagi ya. Masing-masing berangkat nanti langsung ke bandara aja. Titik kumpulnya di arrival depan exit gate 2, dan untuk ongkos kita tanggung ya masing-masing. Udah pada tahu jobdesk-nya apa, kan?" kini Pandu yang bersuara.

Detik selanjutnya para volunter menganggukkan kepalanya.

"Sebenarnya yang kita sampaikan nggak banyak sih. Tujuan gue minta ketemu hari ini biar kita saling kenal aja dulu dan jadi tahu satu sama lain," kata Kalin kepada teman-temannya.

"Mau tanya dong, ini yang nulis siapa?" Naren bertanya.

"Tuh si Ibu Sutradara. Dari dulu setiap ada project buat praktikum, selalu Kalin yang nulis."

Kini Naren menatap Kalin yang duduk di samping Pandu.

"Ternyata selain orangnya yang buat gue jadi jatuh suka, gue juga suka banget sama tulisan lo. Jarang banget anak-anak praktikum buat project film yang temanya mau menyampaikan pesan dan filosofi, apalagi di desa-desa kayak gini. Bagian favorit gue adalah setelah tokoh utamanya menemukan makna dari kata asah, asih, asuh dari kertas yang ditemukan."

Kalin tersenyum dan sedikit tersipu, menyadari bahwa ada orang lain yang tidak begitu dekat dengannya memuji dan memperhatikan tulisannya. Sejak di sekolah menengah pertama, Kalin sudah jatuh cinta pada menulis. Menulis cerita fiksi salah satunya, karena menurutnya ia mampu membuat warna yang ia mau pada dunia yang sedang ia tulis. Ia jatuh cinta dengan kepenulisan karena temannya yang mengenalkan dirinya kepada blog di internet. Sejak saat itu Kalin mulai menuliskan apa yang disuka, entah itu tulisan dalam bentuk fiksi maupun hanya sekadar kata-kata.

Kalin punya mimpi bahwa suatu saat buku yang ia miliki akan berada di rak toko buku yang sering Kalin kunjungi. Kalin sudah lama memimpikan itu, namun prosesnya tidak ada yang instan. Pada saat itu Kalin hanya menulis dalam waktu sebentar dan memutuskan untuk berhenti selama setahun untuk mempelajari kesalahannya. Selain itu Kalin sengaja memilih jurusan ilmu komunikasi untuk mendukung pembelajarannya, dan kemudian di tahun kedua perkuliahan Kalin kembali memberanikan diri menulis untuk project praktikumnya.

Kini Kalin jauh lebih percaya diri terhadap karya-karya yang telah ia ciptakan. Meski demikian, pada beberapa kesempatan ia masih merasakan malu atas hasil karyanya. Namun Kalin tidak menghindari perasaan tersebut, ia justru menikmatinya.

Bagi Kalin, rasa malu bukanlah sesuatu yang harus ditutupi, melainkan bagian dari proses untuk berkembang. Perasaan itu mendorongnya untuk terus belajar dan mengasah kemampuan yang ia miliki. Ia percaya bahwa dengan usaha, rasa malu tersebut akan perlahan memudar, dan pada akhirnya tergantikan oleh rasa percaya diri yang lebih kuat.

"Lo nggak ada niatan nulis lagi, Kal? Maksud gue nulis di blog. Ini kan project terakhir kita. Habis ini kita sudah skripsian, loh. Kayaknya enggak ada salahnya kalau lo balik lagi nulis di blog kayak tiga tahun yang lalu. Tulisan lo bagus, kok."

"Nulis? Kak Kalin penulis?" Naren bertanya, ekspresinya terlihat antusias.

"Iya, aslinya dia itu penulis. Cuma dia belum balik ke blognya itu. Padahal gue juga sebenarnya suka sama tulisannya, bagus," kata Sekar.

"Enggak tahu, nanti gue pertimbangin lagi," Kalin mengucapkan itu diam-diam merasakan perasaan gelisah.

Satu jam berlalu. Setelah berdiskusi dan berkenalan satu sama lain, teman-teman Niskala dan para volunter memutuskan untuk pulang, karena panasnya Jakarta sudah mulai terasa di atas kepala. Bila berada dalam waktu yang lama di gazebo kampusnya, sepertinya tidak butuh waktu lama untuk sekadar berkeringat, dan Kalin memutuskan untuk menolak ajakan makan siang Naren. Kalin tidak punya cukup banyak energi untuk berkenalan dengan laki-laki muda itu. Kalin hanya ingin kembali pulang ke rumah dan mengistirahatkan badannya untuk esok hari.

Namun dugaan Kalin yang mengira Naren akan langsung pulang ternyata salah. Kini laki-laki itu berdiri di sampingnya, menemani dirinya yang sedang menunggu jemputan kakaknya. Kalin sudah berusaha sebaik mungkin agar laki-laki itu pulang, namun ternyata usaha tersebut sia-sia. Naren bersikukuh untuk tetap menemaninya.

"Lanjutin lah, Kak, nulisnya. Jangan berhenti. Menurut gue tulisan lo udah sangat layak untuk dibaca orang-orang. Gue bakalan jadi orang pertama yang bakal dukung lo, Kak, waktu lo balik nulis lagi. Beneran," seru Naren.

"Oh iya? Masa sih?"

"Lo masih ragu ya, Kak? Ragu dan khawatir kelihatan jelas dari mata lo, Kak. Padahal udah banyak orang yang mendukung lo buat balik nulis lagi di blog itu. Menurut gue ini saatnya lo harus berani lagi untuk kembali ke tempat yang udah lama lo tinggalin, Kak."

Kalin tampak terdiam memandangi langit-langit. "Gimana kalau ternyata tempat itu nggak cocok buat gue? Gue udah lama banget meninggalkan tempat itu, Ren. Gue takut aja gitu waktu gue balik ke sana gue merasakan penyesalan karena bertahun-tahun nggak ke tempat itu dan berusaha buat melupakan segala isinya."

"Menurut gue lo enggak akan membawa rasa penyesalan itu sih, Kak."

"Oh iya? Kok bisa?"

Naren berhenti sebentar, tampak memikirkan matang-matang apa yang ingin diucapkan selanjutnya. "Lo enggak akan membawa perasaan penyesalan itu kalau lo bawa hal baru di dalamnya. Tempat itu emang udah lo tinggal lama, tapi kalau lo bawa warna baru di tempat itu pasti akan jauh terasa berbeda dan jauh lebih bisa diterima. Karena yang berubah sebenarnya bukan tempatnya, tapi cara kita memandangnya. Kenangan lama itu akan tetap ada, tapi kali ini lo datang bukan sebagai orang yang sama. Ada versi dari diri lo yang udah belajar banyak hal setelah lo meninggalkan tempat itu. Kembali bukan untuk mengulang hal yang sama, tapi kembali untuk membawa hal baru yang lebih menarik."

Kalin terdiam, berusaha mencerna ucapan Naren baik-baik.

"Buat gue, Kak, tulisan lo itu menarik, tapi ada yang lebih menarik dari tulisan itu sendiri."

Kalin menolehkan kepalanya, menatap Naren dengan bingung.

"Lo, Kak. Lo yang menurut gue lebih menarik dari tulisan yang lo buat."

"


Komentar

Postingan Populer