06. Naren dan kekagumannya.
Pada akhirnya Kalin menerima tawaran episode berkenalan dengan Naren. Laki laki yang berusia lebih muda dari dirinya.
Sebetulnya hal ini cukup mengusik ketenangan pikiran Kalin semalam sebelum menerima tawaran tersebut, perasaan menyesal menandak menyelimuti dirinya karena langsung mengiyakan ajakan tersebut. Alasan Kalin merasa menyesal cukup sederhana yaitu Kalin tidak tertarik dengan laki laki itu. Dan lagi Kalin tidak ingin hal ini nanti akan menjadi sesuatu yang ia sesali dan terjebak kembali dalam dilema cinta.
Namun rasa penyesalan itu juga sudah tidak bisa Kalin apa apa kan, mengubah keputusannya juga tidak mungkin, karena sekarang Kalin sudah berada di tempat favoritnya yaitu toko kopi Kanua yang juga menjadi tempat yang ia sepakati dengan Naren hari ini.
Kalin membuka pintu toko kopi tersebut, mata Kalin melihat ke arah beberapa tempat duduk yang kosong dan kemudian berjalan mendekati salah satu kursi kosong tersebut. Ini merupakan tempat paling favorit Kalin di jakarta, Kalin sering kali berkunjung ke tempat ini sendirian untuk mengerjakan naskah naskah filmnya atau hanya minum kopi sambil membaca buku. Kalin sudah sangat menghafal setiap sudut tempat tersebut bahkan beberapa barista nya cukup akrab dengan dirinya.
Kalin mengurungkan niatnya ke kasir saat melihat seseorang dengan jeans dan kaos hitam itu menatapnya dengan senyuman. Kalin merasakan perasaan canggung di dalam dirinya.
“Hai kak. Maaf ya, harusnya gue sampe duluan, tadi nganter kamera nya bang pandu sebentar, udah pesen belum?” Ucap Naren.
Kalin menggelengkan kepalanya sambil tersenyum “nggak papa, gue juga baru sampai, dan ini gue baru mau pesen”
Naren menoleh sebentar ke bagian Kasir sambil melihat menu yang sudah terpampang jelas di sana. “gue aja yang pesenin mau apa?”
Kalin tampak ragu sebentar. “oke nanti gue ganti ya, gue masu kopi susu gula aren aja, tapi gula nya minta dikurangi ya”
Naren menganggukan kepalanya lalu berjalan ke arah Kasir.
Saat ini yang Kalin rasakan adalah sebuah kebingungan, bingung ia harus ngobrol apa dengan Naren, bingung sebentar lagi apa yang harus ia lakukan, bingung harus bagaimana ia menghadapi Naren nantinya. Sebuah situasi sosial dan emosional yang membingungkan
Sebagian orang akan merasakan hal yang sama seperti yang Kalin rasakan karena sedari awal memang tidak tertarik. Ketidaktertarikan itu membuat sebuah interaksi seperti sebuah tugas emosional baginya, isi kepalanya menjadi penuh dengan tekanan perasaan dan ekspektasi di dalamnya.
“lo suka banget kopi susu gula aren ya kak?”
Kalin menoleh ke arah Naren saat laki laki itu sudah membawa kan satu gelas kopi susu gula aren dan satu gelas americano kemudian Kalin mengulurkan tangannya untuk menerima satu gelas kopi tersebut.
“iya tiap gue kesini, gue selalu pesan ini, enggak pernah berubah”
Naren duduk di kursinya dan berhadapan dengan Kalin. “Kayaknya ya kak, kalo gue enggak jadi manusia, gue mau jadi kopi susu gula aren aja”
“hah? maksudnya?”
“iya, biar bisa jadi bagian favorit dalam hidup lo setiap saat”
Kalin tersenyum menanggapi hal tersebut.
Naren memang unik. Kalin betul betul terjebak dengan brondong yang memiliki segala jurus yang tidak bisa Kalin tebak. Ternyata betul kata sebagian orang, terjebak dengan laki laki lebih muda memang akan selalu memiliki bagian bagian paling menyenangkan namun juga ada bagian paling menyebalkan.
Naren terkekeh. “bercanda kak bercanda, btw jadi bawa bukunya kan?”
“jadi, tapi gue cuma bawa yang seri pertama, coba baca dulu aja”.
Naren menerima buku tersebut. “iya enggak papa, kalo cocok, gue jadi punya alasan buat ketemu lo lagi kak”
Sorot mata Kalin berubah menjadi tatapan introgasi. “ lo tuh selalu gini ya sama orang lain ren?”
“gini gimana?”
“ya gitu, selalu gombal”
“emang gue gombal ya dari tadi?, nggak tuh. Ciee ngerasa di gombalin”
Kalin menghela nafasnya. “idih”
Naren kembali tertawa. “enggak lah kak, yang kayak gitu cuma berlaku buat lo doang, karena lo bukan orang lain menurut gue”
“Lo beneran suka sama gue ya ren?”.
Naren tersenyum sambil menatap manik mata Kalin. “iya lagi, gue juga enggak tau kenapa gue bisa jatuh suka sama lo kak, enggak punya alasan yang jelas sih. Tapi anehnya lo terus berputar di kepala gue dan gue suka lo yang terus berputar di kepala gue”
“tapi kan gue belum tentu seperti yang ada di dalam kepala lo ren, belum tentu lo bisa nyaman setelah kenal gue”
Naren meminum americano nya sebentar. “ya kan nggak semuanya harus nyaman dulu kak?. Perasaan nyaman itu menurut gue harus kita kenalin dulu sih, karena rasa nyaman yang paling nyata itu memang harus kita kenali lewat sebuah perasaan. Merasakan hal hal nyata di depan mata kita itu perlu supaya kita bisa tau gimana perasaan nggak nyaman dan nyaman itu, sama kayak sekarang gue ketemu sama lo”
Pernyataan Naren membuat Kalin tersadar akan dirinya sendiri. Kalin selalu berada di zona nyaman. Nyaman dengan dirinya sendiri dan enggan berkenalan dengan orang baru, makan dan minuman yang ia suka tidak pernah berganti.Namun Kalin tidak membenci dalam mengenali hal hal baru dalam hidupnya, terkadang Kalin Menyukai hal baru, namun ketika kalin menemukan hal baru dalam hidupnya, hal tersebut akan berdiam diri dalam waktu yang lama sampai tuntas waktunya dan kemudian membawa Kalin kembali pada kehidupan yang datar dan selalu sama.
“terus sekarang gimana?”
Naren tersenyum. “nyaman lah, kalo nggak nyaman gue udah anggap lo bagian dari orang lain itu kak”
Kalin terdiam membisu. Entah harus membalas pernyataan terakhir dengan balasan seperti apa. Dari obrolan barusan Kalin jadi mengetahui bahwa Naren memiliki pemikiran yang dalam dan cukup dewasa, Kalin menyadari bahwa ia menyukai pemikiran laki laki yang dewasa, namun entah mengapa, Naren masih memberikan rasa ragu pada laki laki itu.
Naren menangkap wajah Kalin yang terlihat bingung, laki laki itu tersenyum sebentar. “Btw kak, lo suka enggak sama buku ini? Maksud gue apakah buku ini termasuk dari buku paling favorit dari segala buku yang lo punya”
Kalin menatap buku days at the morisaki bookshop. Kemudian isi kepalanya mencoba mengingat ingat kembali isinya buku tersebut.” Yaaa…kalo di bilang favorit banget nggak sih, tapi di masuk ke dalam list buku yang gue suka”
“kenapa tuh? Ceritain dong”
Mendadak isi kepala Kalin kembali kepada pembahasan buku itu dengan laki laki asing di pesawat, pembahasan yang sama, pembahasan yang kembali membawa judul buku tersebut. Sesaat kemudian Kalin dengan cepat menghempas ingatan tersebut.
“Gue suka buku ini karena gue jadi tahu bahwa dalam hidup kita itu nggak harus langsung baik baik saja untuk bisa melanjutkan hidup. Rasa kehilangan dan kesepian itu enggak pernah hilang dari hidup kita kan ren?, mangkanya sebagai manusia kita harus menerima rasa menyakitkan dalam hidup untuk menemukan diri sendiri setelah episode episode luka yang kita lewati”
”dalem juga ya, tapi emang menarik sih, buku buku soal kehidupan seringkali buat kita jadi belajar banyak hal, terus kak terus, selain buku lo suka apa?”
“Gue suka parfum, gue suka banget sama wewangian”
“Waw, gue nggak mengira kalau jawaban lo itu, emang kenapa kak?”
“Gue ada satu parfum yang selalu ingetin gue sama satu tempat, karena selama gue berada di tempat itu, kemana pun gue pergi, gue selalu pakai parfum itu, tapi sekarang botolnya enggak pernah gue buang bahkan masih ada sisanya sedikit ren, ya karena aroma itu punya hubungan yang kuat banget sama ingatan dan emosi, jadi gue ngerasa kalau yang tersisa di botol itu sekarang bukan cuma parfum tapi versi diri gue sendiri pada masa itu”
Naren menatap Kalin dengan binar kagum di matanya dan tanpa Kalin duga laki laki itu tiba tiba mengeluarkan parfum nya dari dalam tas tersebut dan menyemprotkan pada tubuhnya.
“ Kok tiba tiba semprotin parfum ren?”
”iya, biar wangi gue bisa masuk dalam bagian hidup lo kak, jangan lupa in wangi gue ya, gue nggak pernah ganti parfum kok”
Kalin tertegun, menatap Naren yang kini tersenyum bangga dengan botol parfum di tangannya. Ada perasaan geli sekaligus canggung di dada Kalin. Tindakan tiba-tiba yang sangat khas anak muda, impulsif, sedikit berlebihan, dan terburu-buru menuntut ruang di dalam ingatan orang lain. Sangat berbeda dengan ketenangan yang ia rasakan beberapa hari lalu.
Kalin terdiam. Tidak menjawab.
Satu hal yang Kalin sadari siang ini bahwa parfum yang digunakan Naren tidak akan melekat sebagai Naren di kepalanya.
Namun
Sebagai
Januarta.


.jpg)
.png)
Komentar
Posting Komentar