2. Asah Asih Usuh
Mereka tiba di Bandar Udara Abdulrachman Saleh, Malang, sekitar pukul 08.00 pagi. Tim Niskala dan juga kru volunter langsung menuju ke rumah Mas Joko, yang merupakan lokasi pertama yang akan digunakan untuk syuting. Kebetulan sekali memang, Mas Joko sendiri adalah talent yang ada di project Silaturasa yang memiliki mobil tipe Volkswagen Type 2 atau biasa disebut VW. Kalin dengan sengaja menetapkan rumah Mas Joko sebagai lokasi syuting pertama karena rumahnya tepat berada di Ijen Nirwana. Daerah tersebut memiliki suasana yang tenang dan sejuk. Menurut Kalin, dengan suasana yang mendukung seperti itu akan selaras dengan konsep Silaturasa.
"Kita mau mulai syuting jam berapa, Kal?" Pandu bertanya sambil meletakkan alat-alat kameranya di atas meja.
Kalin melihat jamnya sebentar dan mengalihkan pandangannya. Wajahnya tampak berpikir keras. Waktu syuting Silaturasa hanya sehari saja karena ini merupakan satu-satunya cara untuk bisa memangkas anggaran. "Kita istirahat aja 15 menit, habis itu kita mulai syuting aja gimana? Kalian istirahat sama sarapan aja dulu."
Pandu menganggukkan kepalanya setuju, kemudian berjalan meninggalkan Kalin untuk menghampiri anak-anak Niskala. Sedangkan Kalin kembali pada production call sheet pada iPad, mengecek kembali setiap bagian agar saat syuting tidak terjadi kesalahan.
"Menurutku kakak makan dulu deh, call sheet-nya udah bener kok. Kemarin gue juga bantu Bang Pandu buat cek, sudah aman itu." Naren duduk di samping Kalin sambil menyodorkan kotak styrofoam yang berisikan makanan untuk sarapan pagi ini.
"Kelihatan banget ya gue tegang," jawab Kalin.
"Nggak apa-apa lah, Kak, wajar. Biasanya kan kamu cuma nulis naskahnya aja. Tapi hari ini selain menjadi penulis, kakak juga ada di dalam bagian naskah itu, jadi pasti bisa. Jadi wajar dong kalau gugup. Makan dulu aja biar nggak lemes."
"Iya, makasih ya," ujar Kalin.
"Sama-sama, sayang," Naren berkata sambil tersenyum.
Kalin menghela napasnya. Sikap Naren yang kerap kali menggodanya cuma bisa membuat Kalin menggeleng dan pasrah. "Masih pagi lo, masih sempat-sempatnya ya lo kayak gini, Ren?"
Naren tertawa kecil, "Gini? Maksudnya gini-gini nyenengin, kan?"
Kalin menatap laki-laki itu keheranan. "Dih, pede banget lo. Turunin, nggak, tingkat kepedean lo tuh," ujar Kalin sambil membuka kotak styrofoam tersebut yang ternyata berisi ayam goreng sambal dan nasi. Sederhana, namun Kalin menyukainya.
"Eh, Kak, by the way, sepatu kita sama loh. Kok bisa sih?" tanya Naren sambil menatap ke bawah, dan hal tersebut turut membuat Kalin melihat ke bawah. Dan ternyata betul, sepatu miliknya sama dengan milik Naren, yaitu Puma Speed Cat-OG. Hanya saja yang membuat berbeda adalah garis pada sepatu tersebut; milik Kalin berwarna pink, sedang Naren berwarna putih.
Kalin tersenyum saat melihat sepasang sepatu yang sama itu. "Eh iya, kok bisa sih?"
"Tuh kan, Kak, bahkan semesta merestui kita dari sepasang sepatu kita. Jodoh kita fix jodoh," sahut Naren sambil menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.
Kalin kembali menatap laki-laki itu keheranan. Sejak pertama kali bertemu Naren dan sejak pertama kali laki-laki itu terang-terangan atas rasa sukanya, Kalin jadi menyadari bahwa sekuat apa pun usahanya untuk menaruh tembok pembatas di antara mereka berdua, seorang Naren akan dengan mudahnya tidak mempedulikan tembok tersebut dan menghancurkannya dengan semaunya.
"Jangan kepedean, deh, ah. Nanti sakit, loh, kalau kepedean. Nggak baik."
Naren tertawa. "Nggak apa-apa, ditolak berkali-kali sama Kakak juga udah sakit, kok."
"Ren, lo bukannya baru putus, ya?"
Naren menganggukkan kepalanya. "Iya, udah setahun yang lalu sih. Awal-awal semester 1, kita putus. Soalnya emang udah nggak bisa dilanjut sih dan kita juga beda keyakinan."
Kalin terdiam. Kalau soal beda keyakinan memang berat, karena kapalnya seperti hanya mengapung di laut lepas dan tidak bergerak karena bingung harus menuju arah yang mana.
"Terus lo nggak kayak gitu jatuh cinta lagi? Kok bisa suka sama gue yang bahkan belum tentu bales perasaan lo?"
Naren tertawa lagi. "Jatuh cinta itu kan bentuknya beragam, Kak. Macam-macam dan bisa tiba-tiba saja ditemukan. Bisa saja besoknya tidak terlihat sama sekali, bisa saja seminggu selanjutnya ditemukan di tempat yang tidak pernah kita duga-duga. Kadang jumlahnya satu, kadang jumlahnya berkali-kali lipat. Dan kali ini gue nemunya di lo, Kak. Gue bisa jatuh cinta lagi karena bentuknya sudah jauh berbeda."
Kalin menyeritkan dahinya. "Berbeda? Berbeda gimana tuh?"
"Sama perasaan yang sekarang gue bisa menikmati. Menikmati satu hal baru, hal yang masih terlihat abu-abu tapi nggak maksa gue jadi apa-apa. Walaupun warnanya abu-abu, gue tetap menikmati itu karena nggak semua hal harus aman buat dijalanin, kan?"
Ucapan Naren barusan membuat Kalin terdiam dan tidak mampu berkata apa-apa lagi. Ucapan itu juga membawa benaknya kepada satu hal baru, yaitu bahwa ketika orang kembali jatuh cinta memang karena sudah menemukan bentuknya, bentuk cinta yang baru dari sebelumnya dan lebih menarik. Namun sayangnya, Kalin tidak menemukan bentuk cinta itu pada Naren, karena ia masih berusaha memperbaiki bentuk yang lama yang pernah hancur karena masa itu.
—
Setelah menunggu anak-anak menyelesaikan sarapan tadi, kini syuting dimulai. Kalin dan Sekar mulai sibuk menata ruang yang digunakan untuk syuting, dari meja kamar yang sengaja dibuat berantakan sampai lighting yang sudah berdiri dengan sempurna dan menyala terang. Setelah semua properti siap seperti yang diinginkan oleh art director, syuting pun dimulai.
Kalin berdiri tepat di belakang Naren yang bertugas sebagai camera operator dan di sampingnya Wisnu yang bertugas sebagai director of photography. Kalin berdiri di tengah-tengah sambil memperhatikan iPad miliknya yang tersambung dengan kamera dan memperhatikan setiap komposisi, mood, dan lighting pada layar tersebut.
"Oke, camera, roll, and action!" seru Kalin. Suaranya terdengar jauh lebih mantap daripada debaran jantungnya yang masih berpacu.
Kalin terpaku pada layar iPad di tangannya yang tersambung ke kamera Naren. Melalui monitor itu, ia menyaksikan dunia yang ia ciptakan di atas kertas mulai bernapas. Rani bergerak natural di antara tumpukan buku yang berantakan, sebuah komposisi mood yang pas berkat kerja keras Wisnu dalam mengatur pencahayaan.
Kalin menahan napas saat jemari Rani menyentuh permukaan kotak kayu usang di atas lemari. Di layar, butiran debu halus yang beterbangan tertangkap cahaya lighting dengan sempurna, menciptakan suasana magis yang selama ini hanya menari-nari di imajinasi Kalin. Saat Rani membuka kotak itu dan mengungkap gurat aksara Jawa "ꦄꦱꦃ ꦄꦱꦶꦃ ꦄꦱꦸꦃ", Kalin merasakan desiran halus di tengkuknya. Komposisinya, emosi Rani saat menelepon Joko, semuanya terasa "klik".
"Cut! Bagus banget, guys!"
Scene 1 telah selesai.
Begitu kata itu terucap, kesunyian lokasi syuting langsung pecah oleh hiruk-pikuk tim Niskala. Tidak ada waktu untuk berpangku tangan dikarenakan jadwal mereka sangat ketat. Kalin segera bangkit, meletakkan iPad-nya sebentar untuk membantu Sekar mengemas properti, sembari sesekali memberikan instruksi tegas kepada kru volunteer tentang pemindahan alat ke dalam mobil.
Sambil berjalan ke arah depan rumah untuk scene berikutnya, Kalin menghampiri Rani untuk mengecek ulang tata rias dan memastikan baju yang dikenakannya sudah sesuai dengan transisi waktu ke "keesokan hari". Bagi Kalin, detail terkecil pun adalah nyawa dari Silaturasa.
Syuting adegan kedua dimulai tepat saat matahari pagi Malang bersinar lembut di halaman. Kalin kembali ke posisinya di belakang Naren. Di monitor, ia melihat mobil VW Type 2 milik Mas Joko melaju pelan memasuki frame. Suara mesin mobil yang khas dan sapaan akrab Mas Joko kepada Rani terasa begitu organik, seolah semesta memang sedang bekerja sama dengannya pagi ini.
"And... cut! Wrapped untuk lokasi pertama!"
Scene 2 telah selesai.
Kalin menghembuskan napas panjang, membiarkan paru-parunya terisi udara sejuk Ijen Nirwana. Ketegangan yang tadi sempat merantai pundaknya perlahan luntur, berganti dengan rasa lega yang membuncah. Melihat apa yang tertangkap di kamera, ia mulai percaya bahwa keputusannya untuk melangkah menjadi sutradara bukanlah sebuah kesalahan.
"Tuh kan, bisa. Gue bilang juga apa, lo udah ada di dalam naskah itu, jadi buat bergerak sebagai sutradara itu pasti gampang banget," kata Naren. Matanya menatap kagum ke arah Kalin.
Kalin hanya tersenyum menanggapi ucapan Naren.
"Guys, habis ini kita lanjut syutingnya di Desa Ngawonggo ya, pasnya di pinggir jalan Tomboan. Yuk segera prepare barang-barangnya. Sorry ya kalau kesannya agak buru-buru. Usahakan syutingnya sehari supaya pengeluaran kita nggak banyak," kata Pandu dan disetujui oleh teman-teman lainnya.
Setelah memastikan semua barangnya masuk ke dalam camper van, mobil tersebut mulai jalan menuju pedesaan Ngawonggo. Di samping Kalin terdapat Naren. Laki-laki itu sepertinya sudah mengincar tempat duduk yang bersebelahan dengannya bahkan sebelum dirinya masuk ke dalam mobil tersebut.
Saat berada di dalam mobil, entah mengapa Kalin hanya ingin diam saja di kala yang lainnya sedang mengobrol ria dan memakan camilan yang sudah Sekar sediakan. Kalin menatap ke depan, memperhatikan interaksi Mas Joko dan Rani yang begitu akrab. Untungnya kedua talent itu sudah saling mengenal satu sama lain.
Perjalanan tersebut untung tidak memakan waktu lama. Cukup dalam waktu 30 menit, mobil camper van itu sudah sampai di Desa Ngawonggo dan tepat di depannya terdapat gang yang hanya bisa dimasuki pejalan kaki. Para kru film Niskala dan volunter mulai turun dan menurunkan barang-barang yang diletakkan di bagian belakang mobil.
Pandu, Sekar, dan Yudis langsung masuk ke dalam untuk menyapa Mas Yasin selaku pengurus Tomboan Ngawonggo sebelum memulai syuting. Sedangkan Kalin, Surya, Wisnu, Naren, dan beberapa volunter tetap berada di depan untuk melanjutkan scene 3.
"Kal, lihat deh," Wisnu menghampiri Kalin sembari menunjuk ke arah mulut gang dengan antena audionya. "Kalau camper van-nya kita posisikan presisi di depan gang ini, Rani dan Mas Joko bisa langsung menoleh begitu turun. Kita dapet kesan kalau gang ini adalah 'pintu masuk' ke dunia rahasia Ngawonggo. Gimana?"
Kalin mundur beberapa langkah, menyatukan ibu jari dan telunjuk kedua tangannya membentuk bingkai imajiner. Ia membayangkan komposisi visual yang ditawarkan Wisnu. Benar, itu akan memberikan kedalaman ruang yang jauh lebih cantik daripada rencananya semula yang hanya mulai dari parkiran.
Kalin mengangguk mantap. "Ide bagus, Nu. Frame-nya bakal dapet kesan 'perjalanan' yang lebih kuat. Kita eksekusi di situ."
Setelah memastikan posisi mobil sudah pas dan semua kru volunteer berada di titik yang tidak bocor ke kamera, Kalin kembali menunduk pada iPad-nya. Di monitor, Mas Joko dan Rani sudah bersiap di dalam kabin mobil. Kalin melirik sekeliling; Surya memberikan jempol, Naren sudah stabil dengan kameranya.
"Oke, semuanya... camera, roll, and action!"
Melalui layar digital itu, Kalin melihat camper van melaju pelan dan berhenti tepat di depan gang, seperti kepingan puzzle yang jatuh di tempat yang benar. Ia memperhatikan cara Rani turun, senyum tulusnya saat mengucapkan terima kasih pada Didin, sang sopir, hingga gurat kekaguman di wajah Mas Joko saat memandang ke arah situs petirtaan.
Setiap langkah kaki mereka yang masuk ke dalam gang terekam dengan ritme yang pas. Kalin merasa ada kebanggaan kecil yang menggelitik dadanya melihat bagaimana ide-ide abstraknya kini menjadi nyata dalam bingkai visual yang begitu cantik.
Scene 3 telah selesai.
Setelah scene 3 selesai, Kalin bersama kru filmnya mulai masuk ke dalam untuk berganti tempat di dapur wedang, di mana pada scene 4 ini merupakan proses pembuatan wedang. Wedang Tomboan begitu dikenal banyak orang karena merupakan wedang yang menyehatkan dengan rasa yang khas. Sebelum memulai scene ke-4, Kalin menghampiri Mas Yasin terlebih dahulu.
"Selamat pagi, Mas Yasin. Bagaimana kabarnya, Mas?" sapa Kalin sambil tersenyum.
"Pagi, Mbak Kalin. Walah, kabar saya baik sekali," sambut Mas Yasin dengan nada halus khas pedesaan yang menenangkan. Laki-laki itu menatap Kalin dengan ramah. "Mbak Kalin dan teman-teman sudah sarapan? Pasti capek sekali jauh-jauh dari Jakarta ke sini. Monggo, sarapan dulu, Mbak."
Kalin membalas dengan senyum tulus, merasa kehangatan warga lokal mulai mencairkan sisa-sisa kegugupannya. "Terima kasih banyak, Mas Yasin. Kebetulan tadi kami sudah sempat sarapan sebelum ke sini. Mungkin nanti setelah syuting usai, kami baru bisa menikmati camilan sambil ngobrol santai dengan Mas."
Mas Yasin mengangguk mantap, gurat kebanggaan terpancar di wajahnya. "Oalah, begitu toh. Inggih, tidak apa-apa. Mau syuting sekarang saja? Saya sudah siap dengan baju ini, sudah keren, toh?" ia bertanya sambil merapikan pakaian tradisionalnya.
Kalin terkekeh pelan. "Sudah sangat keren, Mas. Kalau Mas Yasin sudah siap, kita bisa langsung laksanakan. Teman-teman kru juga sudah di posisi."
Kalin berjalan beriringan dengan Mas Yasin menuju area Dapur Ngawonggo atau pawon. Begitu melangkah masuk, indra penciuman Kalin langsung disambut aroma magis dari rebusan serai, jahe, dan jeruk yang menyeruak dari tungku kayu bakar.
Ia segera mengambil alih kendali. Dengan iPad di tangan, Kalin mulai mengarahkan tim Niskala. Ia mengecek presisi posisi kamera Naren dan memastikan cahaya matahari yang masuk ke sela-sela bangunan bambu selaras dengan lighting buatan Wisnu. Di dalam frame monitornya, Mas Hanafi sudah bersiap di balik tungku, terlihat sangat autentik dengan pakaian tradisionalnya sembari menyiapkan bahan-bahan herbal.
"Wardrobe, aman?" tanya Kalin memastikan.
Joko dan Rani kini sudah berganti rupa. Sesuai tradisi Ngawonggo, mereka telah melepas alas kaki dan melilitkan kain batik di pinggang mereka. Tekstur batik yang kontras dengan latar dapur kayu itu memberikan kedalaman visual yang luar biasa cantik di layar monitor Kalin.
Kalin menarik napas panjang, memberikan kode kepada kru di sekelilingnya. "Oke, semuanya... camera, roll, and action!"
Melalui monitor, Kalin menyaksikan adegan itu mengalir seperti air. Rani, Mas Joko, dan Mas Yasin melangkah masuk ke area dapur sambil memikul gumbeng, bambu besar wadah air yang dipikul dengan ritme yang terjaga. Mereka menghampiri Mas Hanafi yang tengah meracik wedang.
Suara gemericik air dan desis uap dari tungku kayu menjadi musik latar yang sempurna saat Mas Hanafi mulai menjelaskan filosofi Wedang Tomboan. Kalin tertegun mendengar penjelasan itu di balik monitor; bagaimana setiap tanaman herbal bukan hanya untuk imunitas tubuh, tetapi diharapkan mampu menjadi tombo atau obat bagi setiap jiwa yang datang untuk melepas penat.
Kalimat itu entah mengapa terasa begitu personal bagi Kalin. Sembari menatap layar, ia membatin, mungkinkah perjalanan ke Malang ini adalah tombo yang ia butuhkan untuk hatinya sendiri? Kalin tertawa diam-diam dengan pikiran aneh yang melintas di kepalanya.
"And... cut! Bagus sekali, semuanya!" seru Kalin, kali ini dengan binar mata yang jauh lebih cerah.
Scene 4 telah selesai.
"Wah, gila lo, Kak. Keren banget, asli," Naren tiba-tiba muncul di sampingnya, matanya menatap Kalin dengan kekaguman yang tidak ditutup-tutupi. Ia mencondongkan tubuh, berbisik tepat di telinga Kalin, "Gue jadi makin suka sama lo. Habis syuting... jadian yuk?"
Kalin tersentak. Jantungnya berdegup bukan karena baper, tetapi karena terkejut dengan keberanian Naren yang "ugal-ugalan". Ia segera memasang tameng batinnya, menatap Naren tajam untuk menutupi kegugupannya, lalu berjalan pergi meninggalkan laki-laki itu yang malah tertawa tanpa dosa.
Kalin tidak punya waktu untuk drama pengejaran Naren sekarang. Ia harus tetap proaktif sebagai sutradara. "Semuanya, yuk pindah set! Kita ke area dapur memasak. Let's go!"
Tim Niskala langsung bergerak sigap memboyong tripod dan lampu ke arah bangunan bambu dengan dinding terbuka. Di sana, aroma kayu bakar dan sayur segar sudah menyapa. Di dapur tradisional itu, Kalin berdiskusi cepat dengan Wisnu dan Naren untuk menentukan sudut kamera terbaik. Setelah komposisi di layar monitor terlihat "manis", ia kembali memberikan aba-aba.
"Camera, roll... action!"
Adegan mengalir dengan hangat. Di monitor, Rani dan Mas Joko tampak canggung, namun antusias saat membantu warga lokal memetik sayur kangkung dan mengaduk sayur asem di atas tungku kayu bakar. Penjelasan tentang konsep makanan vegan di Ngawonggo yang seluruhnya dikelola warga lokal memberikan kesan hidup sederhana yang begitu dalam.
Setelah makanan tersaji di sebuah gubuk kayu yang sejuk, Mas Yasin mulai bercerita. Suaranya yang rendah dan bijak tertangkap mikrofon dengan jernih.
"Ngawonggo ini sebenarnya situs petirtaan suci dari abad ke-10, Mbak Rani," jelas Mas Yasin sambil menuangkan air putih ke gelas stainless. "Dulu ini tempat suci Kerajaan Medang. Kami ingin tempat ini jadi sinergi antara alam dan kearifan lokal yang tetap relevan buat anak muda zaman sekarang."
"Terus, filosofi asah, asih, asuh itu maksudnya bagaimana, Mas?" tanya Rani dalam karakter.
"Itu filosofi Jawa," jawab Mas Yasin mantap. "Asah artinya kita harus terus mengasah diri, belajar supaya berkembang. Asih artinya mengasihi, hidup itu nggak cuma harus pintar, tapi harus punya hati. Dan asuh, yang kuat membimbing yang lemah. Ngawonggo adalah simbol tempat manusia belajar jadi utuh kembali lewat tiga konsep itu."
Di balik monitor, jemari Kalin bergetar halus. Ia menyaksikan Rani menuliskan pesan itu di buku harian yang disorot kamera: manusia tidak cukup hanya hidup, tetapi harus belajar menjadi manusia yang utuh.
Kata "utuh" itu terasa menusuk tepat di bagian hatinya yang masih "rusak". Selama ini, ia hanya sibuk mengasah (asah) kemampuannya, tapi lupa bagaimana benar-benar mengasihi (asih) dirinya sendiri tanpa takut patah hati lagi.
"And... cut! It's a wrap!" seru Kalin, kali ini dengan napas yang benar-benar lega. Syuting hari itu selesai. Kalin menatap teman-temannya yang juga terlihat lega dan senang. Perkiraan waktu yang pas, dan beruntungnya syuting selesai sesuai dengan jadwal yang Kalin buat. Kalin bernapas lega.
Mulai hari ini Kalin mendapat pelajaran baru. Sebelumnya Kalin memang sudah mengetahui makna dari asah, asih, asuh, namun itu hanya dibaca melalui artikel di internet. Setelah mendengar pernyataan langsung dari pemilik Tomboan Ngawonggo, Kalin menjadi tahu bahwa manusia pada dasarnya memang harus belajar menjadi utuh, tidak harus selalu menjadi sempurna terlebih dahulu untuk bisa merasa cukup dan tidak perlu menunggu semuanya pulih sepenuhnya untuk mulai hidup dengan tenang. Ia mulai paham bahwa menjadi utuh bukan berarti tanpa luka, melainkan mampu menerima setiap bagian dari dirinya, yang kuat maupun yang rapuh. Bahwa proses mengasah diri tidak harus menyakitkan, bahwa mengasihi tidak selalu berarti memberi pada orang lain saja, dan bahwa mengasuh juga bisa dimulai dari merawat diri sendiri.
Pandu menghampiri Kalin dan berjabat tangan. "Makasih banyak ya, Kal. Lo udah kerja keras hari ini. Gue tadi sempat ngira kalau kita nggak kelar syuting hari ini, tapi berkat kerja keras lo yang bisa mengatur anak-anak dan syuting berjalan lancar, akhirnya selesai tepat waktu," ujar Pandu.
"Iya, sama-sama, Pan. Gue juga makasih ya udah dibantu turun tangan buat ngobrol sama Mas Yasin."
"Makasih sama gue mana, Kak? Gue udah bantu syuting lo. Lo lihat kan? Gue tadi penyutingan kameranya keren banget. Asli, dah, nggak ada yang bisa kayak gue," ujar Naren sambil tersenyum.
"Iya, asli lo keren banget. Beneran, deh. Makasih ya udah mau jadi volunteer gue hari ini," ujar Kalin dengan tulus.
"Oke, Kak. Sebagai gantinya gue nggak usah dibayar sepeser pun."
"Lah, kok nggak dibayar sih, Ren? Terus mau lo apa?" tanya Kalin.
"Habis praktikum lo selesai, keluar yuk sama gue. Episode perkenalan kita belum dimulai loh. Masa ditolak mulu. Kenalan dulu aja gimana?"
hehehe gimana episode 2 nya??
fun fact nya project silaturasa itu benaran ada gyus, itu merupakan project an film aku sewaktu kuliah dan jadi pengalaman nyata aku yang cukup menyenangkan sekaligus capek banget dan dari silaturasa aku jadi banyak tau termasuk asah asih dan asuh, jadi dari episode ini aku mau berbagi pelajaran kecil kecil an buat kalian.
.jpg)
.png)
Komentar
Posting Komentar