3. Melanjutkan Hidup & garis mula.
Akhir-akhir ini cuaca Malang sedang tidak menentu. Seharusnya ini sudah memasuki musim panas, tapi sepertinya Kota Malang berbeda dari kota-kota lainnya. Hujan sudah mengguyur sejak pukul 7 pagi tadi, membuat udara menjadi jauh terasa lebih dingin.
Kalin sudah di hotel. Di hari keduanya di Malang, ia memutuskan untuk menetap selama satu hari saja. Semalam setelah ia menyelesaikan syuting di Ngawonggo, ia bersama dengan teman-teman Niskala sepakat untuk menerima ajakan Mas Joko untuk menginap di sana, dan paginya dirinya berpindah tempat, sedangkan teman-temannya sudah kembali ke Jakarta.
"Kak? Mau gue temenin aja di Malang? Yakin bisa sendirian?" Naren bertanya dengan raut wajahnya yang khawatir.
Sebelum Kalin memberikan respons, Sekar menyahuti ucapan Naren terlebih dahulu. "Itu mah modus lo aja, Ren. Lo lupa ya kalau Kalin itu anaknya super mandiri? Apa-apa dia bisa sendiri."
"Iya, gue tau. Cuma Malang sama Jakarta kan jauh banget. Lo beneran enggak apa-apa, Kak, sendirian di sini?" ucap Naren gelisah.
"Gapapa, Ren. Gue mau mencoba hal-hal kayak gini."
"Kayak gini? Kayak gini gimana maksud lo, Kak?"
"Ya kayak gini. Dari dulu gue suka banget merayakan sesuatu dengan waktu kesendirian gue. Menurut gue itu jadi bagian yang paling jujur dalam hidup gue. Gue bisa ke mana pun tanpa meminta keputusan orang lain. Gue bisa menghabiskan waktu dengan hal-hal yang gue suka," jawab Kalin.
"Wah," sahut Naren takjub. "Gue kira manusia akan benci dengan masa kesendiriannya. Ternyata dari lo gue jadi tahu bahwa masa kesendirian itu penting buat diri sendiri, karena dari situ kita jadi bisa menerima warna apa pun dalam hidup kita dan menemukan bagaimana kita bisa menikmati hidup kita."
"Iya lagi," kini Pandu ikut menimpali, "satu-satunya cara supaya kita bisa menikmati hidup adalah saat manusia bisa menikmati masa kesendiriannya. Karena kalau sendirian, manusia lebih menjadi bebas, bahkan bisa mendapatkan pemahaman baru yang nggak datang saat kita sibuk sama orang lain. Ih, puitis juga gue hari ini."
Kesendirian itu, buat Kalin, adalah momen paling baik dalam hidupnya. Ketika ia menyelesaikan sesuatu yang besar, Kalin akan merayakannya dengan menikmati waktunya sendirian, karena itu merupakan sebuah bentuk darinya untuk menutup sesuatu yang sudah selesai. Selain itu, ini juga merupakan bagian dari ruang refleksinya, mengevaluasi atau berpikir selanjutnya apa yang harus dirinya lakukan setelah menyelesaikan tugasnya.
Kalau di Jakarta, biasanya ia akan pergi ke Bandung, menaiki Whoosh, dan pulang di malam hari. Menurutnya itu merupakan momen paling menyenangkannya. Walaupun saat Kalin keluar sendiri ada beberapa kejadian yang sering sekali tidak ia sangka, tapi hal tersebut tidak membuatnya takut, karena itu akan menjadi warna baru dalam hidupnya yang jarang Kalin temui.
Ting!
Terdengar notifikasi melalui ponselnya.
Naren.
Kalin tertawa, lalu kemudian ia membalasnya.
Selanjutnya Kalin hanya membaca chat terakhir dari Naren begitu saja.
Mulailah Kalin dengan hari barunya di Malang. Taxi online yang sudah ia tunggu sudah berada di lobi hotel. Pagi ini rencananya ia ingin pergi ke salah satu kafe yang terletak di Kayutangan, Cafe Padma namanya. Entah apa yang akan ia lakukan di sana, mungkin ia hanya bermain dengan iPad miliknya dan meminum segelas kopi sambil melamun sendirian. Kemudian setelah itu ia akan berjalan-jalan mengelilingi Kayutangan, berfoto ria, dan mencoba beberapa makanan.
Kalin memasuki taxi online tersebut.
"Atas nama Mbak Kalin ya?"
"Iya, Pak. Ke Kayutangan ya, Pak."
"Baik, Mbak."
Mobil tersebut berjalan. Kalau sudah begini Kalin pasti tidak akan mengobrol dengan sopir taxinya. Perempuan itu akan menggunakan earphone kabelnya dan menikmati playlist lagu miliknya sambil memandangi jalanan yang ia lewati.
—
Kalin tiba di Kayutangan, dan sebelum Kalin memasuki Cafe Padma, matanya sempat salah fokus ke banyak sekali tempat. Suasana yang unik karena memiliki campuran nostalgia dengan kota lama. Yang membuat Kalin salah fokus ada pada bagian bangunan-bangunan peninggalan Belanda, dan di sini ia tidak merasakan hiruk-pikuk kota seperti di kota asalnya. Malang sangat tenang.
Kalin masuk ke tempat kopi dan matanya langsung tertuju pada suasana kafe yang tidak terlalu ramai, namun terlihat begitu nyaman. Gayanya yang cozy akan membuat pengunjung betah berada di sini dalam waktu yang cukup lama.
"Selamat pagi, Kak. Mau pesan apa?"
Kalin melirik menunya sebentar. Bila berkunjung ke tempat kopian seperti ini, Kalin suka sekali memesan es kopi gula aren, menu favoritnya di kafe mana pun.
"Saya mau es kopi aren satu, Mas."
"Baik, Kak. Ada tambahan lagi?"
Kalin melihat buku menunya kembali sambil menimang-nimang apakah ia perlu membeli menu tambahan. "Enggak deh, Mas. Itu aja," ujar Kalin.
"Baik, Kak. Totalnya 28 ribu. Mohon maaf, Kak, atas nama siapa ya tadi?"
"Kalina."
"Baik, Kak Kalina. Untuk pesanannya bisa diambil di sebelah ya. Terima kasih banyak."
Kalin tersenyum, kemudian mengambil kopi miliknya. Barusan dirinya memang dengan sengaja tidak menyebut nama aslinya. Inilah bagian dari warna yang Kalin suka dalam hidupnya: mengganti namanya saat berada di kafe. Menurutnya itu cukup menyenangkan saja.
Kalin duduk di meja yang tidak terlalu jauh dari kasir. Kemudian ia mengeluarkan iPad beserta keyboard miliknya. Sebetulnya, keputusan Kalin untuk sepagi ini mengunjungi kafe sambil membawa iPad miliknya bukan serta-merta ia hanya sekadar berkunjung, namun Kalin ingin kembali melihat blog yang sudah lama ia tinggalkan. Sejak beberapa temannya menyarankan dirinya untuk kembali menulis, pikiran Kalin menjadi berisik mengenai tempat tulisannya yang sudah ia tinggalkan cukup lama. Dan hari ini Kalin kembali memberanikan diri untuk melihat tempat tersebut.
Dan keputusannya ini merupakan satu hal dari dirinya untuk melanjutkan hidupnya setelah project-project filmnya selesai. Entah berhasil atau tidak, namun pada bagian ini dirinya harus mencobanya. Dan kali ini ia menyadari bahwa ia datang tidak dengan tangan yang kosong. Kalin datang bukan sebagai orang yang sama.
Pada layar iPad-nya sudah terlihat jelas blog yang sudah lama ia tinggalkan. Blog tersebut ia beri nama KalinBercerita. Tangannya ia gerakkan menelusuri web miliknya. Beberapa postingan tulisannya ada yang masih berada di sana. Kalin membuka tulisannya yang berjudul Kita yang Tak Pernah Selesai. Perempuan itu mulai membaca pada bagian episode satu. Ia perlahan-lahan mencerna setiap bagian pada tulisan-tulisan itu.
Kalin tertawa saat menyadari banyak sekali rangkaian kata yang berantakan dan banyak sekali typo, desain pada setiap episode yang membuat sakit mata, huruf besar di tengah-tengah tulisan, dan pada saat ia membaca episode selanjutnya Kalin baru menyadari bahwa alur yang dia buat sangat tidak menarik dan tidak mempunyai arah. Dalam hatinya ia bertanya-tanya, mengapa pada saat itu ada yang menyukai bentuk tulisannya ini, mengapa pada saat itu banyak orang yang menunggu episode baru dari ceritanya ini. Kalin jadi sukses dibuat kesal oleh dirinya yang dulu.
Hal yang sama juga ia temukan di tulisan lainnya. Pada saat itu Kalin ingat sekali, ketika dirinya memiliki banyak ide untuk dituangkan, dirinya akan dengan mudah membuat judul, sinopsis, dan memposting episode satunya tanpa melewati proses development yang baik. Hal itu tentu membuat Kalin memiliki beragam judul cerita, namun cerita tersebut tidak memiliki kedalaman yang baik.
Setelah melihat hasil karya miliknya, Kalin menjadi sadar akan sesuatu: bahwa rasa takut yang ia bayangkan ternyata justru tidak muncul di permukaan.
Seperti yang Naren ucapkan padanya, bahwa dirinya tidak akan membawa rasa penyesalan atau ketakutan itu karena Kalin sudah membawa warna baru setelah sekian lama meninggalkan tulisannya. Warna baru yang dimaksud olehnya adalah pengalaman yang ia dapatkan selama ini. Tempat tersebut akan tetap sama dan tidak akan berubah; yang berubah adalah cara pandang Kalin.
Dengan pengalaman, Kalin tidak akan memandang buruk tempat tersebut. Justru dari keberanian ini untuk kembali ke blog tulisannya, Kalin jadi mengetahui bahwa dirinya sudah berada di level yang jauh dari dirinya sebelumnya. Ia jadi tahu bahwa Kalin sudah bertumbuh dengan versi terbaiknya, dan ketika ia kembali, ia sama sekali tidak memiliki rasa menyesal sedikit pun.
Pada dasarnya manusia akan memiliki banyak versi dalam hidupnya, dari versi paling buruk yang perlahan bertransformasi menjadi versi paling indah. Dan Kalin sudah melalui hal tersebut. Kini ia kembali melanjutkan hidupnya dengan tulisannya yang sempat ia tinggalkan beberapa tahun lalu. Ia memilih hal tersebut untuk kembali utuh, namun dengan cara yang baru.
—
Sehari setelah Kalin berada di Malang, hari ini ia harus kembali ke Jakarta. Ada pitching penting yang harus ia lakukan dengan tim Niskala di esok harinya. Kalin tidak pernah mengira pitching filmnya akan dimajukan dalam waktu secepat ini dan membuat tim Niskala cukup kesulitan dalam menyelesaikan editing-nya. Maka dari itu, rencana Kalin yang seharusnya pulang pada hari Kamis menjadi berubah total.
"Kopi apa tuh? Abang mau juga dong," ucap seseorang melalui teleponnya.
Kalin meletakkan ponselnya di atas meja dan menyandarkannya dengan tas miliknya agar Kaelan bisa melihat dirinya lebih baik. "Ini? Enggak tahu, asal aja beli. Tadi sebelum ke bandara ada yang jual kopi susu keliling gitu. Murah, tau, Bang. Cuma 8 ribu, deh, kalau nggak salah."
"8 ribu? Murah banget? Di sana murah-murah ya, Dek?" tanya Kaelan.
Kalin menganggukkan kepalanya setuju. "Ih iya, Bang! Sayangnya Kalin kurang lama di sini, jadi kurang eksplor banyak tempat, deh."
Pada video call tersebut Kaelan tertawa. "Gapapa, nanti liburan semester aja ke Malang lagi. Sekarang kamu udah di lounge kan? Pesawatnya jam berapa?"
Sambil duduk, Kalin meletakkan kakinya di meja. "Iya, udah di lounge kok. Kalau pesawatnya sih masih nanti jam 10-an. Abang hari ini enggak ke kantor?" ujar Kalin sambil melihat jam tangannya yang masih menunjukkan pukul 9.10.
Kaelan hilang dari layar ponselnya sebentar, kemudian kembali lagi sambil membawa dasi miliknya. "Ke kantor dong, cuma karena atasan abang lagi nggak di kantor, abang mau telat sebentar. Semalam abang habis begadang ngerjain berkas-berkas, capek banget."
Kalin meminum kopinya sebentar. "Makanya cari pacar, gih. Kalau abang punya pacar, pasti ada yang semangatin abang," kata Kalin sambil tertawa.
Kaelan mengangkat ponselnya tinggi, memperhatikan dasi miliknya. "Gampang itu mah."
"Dih, kalau gampang harusnya abang udah bawa calon ke rumah," cibir Kalin.
Kaelan menghela napasnya dan mengalihkan topik tersebut. "Bawel ah kamu. Sekarang barang-barang kamu gimana? Bisa bawanya? Kalau enggak bisa, minta tolong porter aja. Nanti abang ganti uangnya."
Kalin melirik sebentar barang bawaannya. Hanya ada tote bag kecil miliknya dan sebuah koper kecil. Ya, hanya itu. Namun, sejak tadi ia terus berpikir keras tentang bagaimana cara mengangkat koper itu nanti di dalam pesawat untuk diletakkan di overhead bin.
"Aman kok, Bang. Kalin bisa, cuma sedikit kok barang-barang aku."
"Oke deh. Nanti kabari abang ya kalau udah di Jakarta. Abang yang jemput, oke?"
Kalin menganggukkan kepalanya. "Iya, Bang. Makasih yaa. Oke, kalau gitu Kalin tutup dulu." Kalin melambaikan tangannya ke arah ponsel miliknya, kemudian mematikan panggilan video tersebut.
Seusai teleponnya dengan kakaknya berakhir, Kalin membereskan barang-barangnya terlebih dahulu, memasukkan iPad dan buku bacaannya ke dalam tote bag miliknya, kemudian membuang beberapa bungkus makanan ke dalam tempat sampah. Kalin membaca layar info penerbangan. Saat melihat statusnya berubah menjadi boarding, Kalin segera menenteng tote bag-nya dan menyeret koper miliknya, lalu berjalan ke arah gate yang tidak terlalu jauh dari tempatnya berada.
Ini bukan kali pertama Kalin melakukan penerbangan seorang diri. Kalin pernah beberapa kali keluar kota sendirian. Sekali lagi, Kalin sangat menyukai perjalanan jauhnya ketika sendirian. Bukan berarti ketika bersama orang lain ia tidak menikmati perjalanan tersebut. Namun, Kalin sangat menikmati ketika bepergian sendirian. Ia akan dengan mudahnya fokus pada pengalaman dalam perjalanan itu. Begitulah ia menikmati hidupnya. Rasa sendirian tidak membuatnya menjadi takut, namun justru membuatnya menjadi tenang dan tidak harus menjadi siapa-siapa.
Saat berjalan menuju gate boarding pass, ponsel Kalin bergetar dan menunjukkan notifikasi pesan dari Anna.
Sambil berjalan, Kalin membaca pesan tersebut, kemudian ia memutuskan memfoto apa pun yang berada di depannya dan mengirimkannya kepada sahabatnya.
Saat membaca pesan tersebut, Kalin memfokuskan pandangannya pada laki-laki yang ia foto secara tidak sengaja tadi. Laki-laki itu berjalan ke arah gate yang sama. Kalin memperhatikan penampilan laki-laki itu dan diam-diam membenarkan ucapan Anna.
Kalin berdecak heran saat membaca pesan tersebut melalui pop-up notifikasi pada ponselnya. Selalu saja Anna memiliki pemikiran di luar jangkauan, meminta bertindak gegabah pada saat dirinya atau Anna menemukan laki-laki yang terlihat cocok dengan Kalin.
Kalin tidak terlalu memedulikan pesan tersebut dan segera ia mengantre pada gate boarding pass tersebut. Laki-laki yang digadang-gadang tampan dari belakang oleh Anna tadi juga turut mengantre tepat di depannya. Sambil menunggu gilirannya, mata Kalin menangkap proporsi tubuh laki-laki itu. Dia terlihat tinggi, bahunya tegap dan lebar. Sepertinya usianya jauh lebih tua darinya. Kalin mendadak berpikir mengenai tipe laki-laki itu. Biasanya yang terlihat matang seperti ini tidak akan mau dengan model seperti dirinya. Pasti laki-laki matang akan mencari yang dewasa dan setara dengannya.
Kalin menggelengkan kepalanya cepat dan mengenyahkan pikiran tersebut. Kenapa hal seperti itu Kalin pikirkan sebegitunya? Kenapa dirinya harus memikirkan tipe laki-laki asing di depannya ini seperti apa? Ini akibat pesan Anna tadi, pikirannya jadi berlabuh jauh ke mana-mana.
Kalin memberikan barcode untuk di-scan dan menyertakan KTP miliknya kepada petugas. Setelah semuanya sudah dicek, Kalin berjalan memasuki garbarata atau lorong menuju pesawat, kemudian ia menyebutkan nomor tempat duduk miliknya kepada kru kabin. Setelah mendapatkan arahan, Kalin berjalan menuju kursinya.
Namun lucunya, yang tidak Kalin duga-duga, laki-laki yang berada di depannya tadi ternyata duduk tepat di samping kursinya, 7A & 7B. Dan kali ini Kalin bisa melihat wajah laki-laki itu sepenuhnya, dan benar saja dugaan sahabatnya bahwa laki-laki itu memang sangat tampan.
Ia meletakkan tote bag-nya terlebih dahulu pada kursi miliknya, kemudian ia beralih kepada kopernya. Dalam hatinya, Kalin ingin sekali meminta tolong kepada petugas atau siapa pun yang bisa menolongnya, akan tetapi Kalin merasa tidak enak, dan pada akhirnya perempuan itu mencoba untuk mengangkat koper miliknya sendiri.
Akan tetapi, hal memalukan justru terjadi. Tubuh Kalin justru oleng ke samping. Kalin malu setengah mati.
"Need help? Mau saya bantu?"
Kalin langsung memfokuskan matanya kepada seorang laki-laki yang menawarkan bantuan kepadanya, laki-laki yang duduk di sampingnya. Dengan agak malu-malu, Kalin pun menjawab, "Boleh, Mas. Terima kasih banyak," ucapnya. Serius, rasanya Kalin ingin menghentak-hentakkan kakinya saat ini juga lantaran kesal terhadap dirinya sendiri.
Laki-laki tersebut kemudian mengambil koper milik Kalin dan mengangkatnya ke overhead bin. Setelah itu ia tersenyum pada Kalin dan kembali duduk di tempatnya.
"Makasih banyak ya, Mas. Saya terbantu sekali."
"Sama-sama," ucapnya singkat sembari tersenyum.
Kalin kemudian duduk pada kursinya. Sempat Kalin rasakan bahwa bahunya tegang, entah mengapa tiba-tiba terasa tegang sekali. Setelah duduk di kursinya, Kalin mengambil buku bacaannya, earphone kabel miliknya, dan ponselnya. Ia ingin menghubungi Anna.
Kalin diam-diam mengumpati teman satunya itu, tidak sopan.
"Suka juga sama karya Keigo Higashino?" tanya seseorang yang duduk di sebelahnya.
Kalin mengalihkan pandangannya dari ponselnya, kemudian ia menatap bukunya, buku bersampul biru dengan judul Keajaiban Toko Kelontong Namiya.
"Ah iya, Mas. Saya punya beberapa buku karya Keigo. Kalau yang ini saya baru beli."
Laki-laki itu menganggukkan kepalanya. "Saya juga suka sekali dengan karya Keigo. Setiap karakter yang dia buat terasa manusiawi, dan misterinya accessible, nggak terlalu berat secara bahasa maupun teknis."
"Ah iya. Kadang ceritanya juga nggak cuma soal misteri, tapi ada sisi emosionalnya juga."
"Dan itu yang membuat pembaca berpikir cukup dalam setelah selesai baca," tambah laki-laki itu sambil sedikit membetulkan posisi duduknya.
Kalin menyandarkan tubuhnya di kursi tersebut, mencoba merilekskan tubuhnya. "Mas sendiri paling suka yang mana?"
"Kalau disuruh milih satu sih susah," jawab laki-laki itu. "Tapi yang paling berkesan menurut saya itu yang judulnya Journey Under the Midnight Sun, karena misteri yang diangkat lebih ke hubungan dua karakter itu, bagaimana hidup mereka berkembang, dan apa yang sebenarnya menghubungkan berbagai kejadian aneh selama bertahun-tahun."
"Saya belum punya buku itu sih, Mas. Nanti setelah selesai baca ini, saya coba beli deh."
Laki-laki itu tersenyum. "Omong omong kita belum berkenalan. Saya Januarta. Kalau Mbaknya namanya siapa?"
.jpg)
.png)
Komentar
Posting Komentar