4. Dan setelahnya
"Saya belum punya buku itu sih, Mas. Nanti setelah selesai baca ini, saya coba beli, deh."
Laki-laki itu tersenyum. "Omong-omong kita belum berkenalan. Saya Januarta. Kalau mbaknya namanya siapa?"
Kalin terdiam sebentar. Dalam waktu sebentar itu, terlintas di kepalanya untuk menyebutkan nama yang bukan miliknya. Karena juga untuk apa dia menyebutkan nama aslinya? Dia hanya laki-laki asing yang Kalin temui hari ini saja dan tidak akan ia temui kembali.
Kalin ikut tersenyum. "Saya Kalina, Mas."
"Salam kenal ya, Mbak Kalina. Kembali ke Jakarta atau sedang ada urusan di Jakarta?"
"Saya kembali ke Jakarta, Mas. Kalau masnya?"
"Sama, saya juga harus kembali ke Jakarta. Rencananya saya pulang besok, namun ada beberapa pekerjaan saya yang tidak bisa ditunda."
Kalin menganggukkan kepalanya, seolah-olah memahami dengan baik keluhan laki-laki di sampingnya. Kalin bukan perempuan pemalu, tapi kalau sudah dihadapkan dengan kondisi seperti ini, punggungnya menjadi tegang dan rasanya ingin segera pergi dari tempat tersebut.
Tidak lama, pesawat mulai lepas landas. Sambil berharap-harap obrolan selesai di situ, Kalin pun mengeluarkan earphone kabel miliknya untuk mendengarkan musik. Membuka Spotify dan memilih playlist "Kalin Boarding", Kalin sangat menyukai musik, terutama musik yang membuat suasana perasaan menjadi lebih menyenangkan. Sehari saja Kalin tidak mendengarkan musik, rasanya seperti dilanda perasaan kesepian yang menyedihkan.
Setelah earphone-nya terpasang di telinganya, Kalin berniat membuka bukunya kembali. Namun, justru ia mendengar sayup-sayup suara laki-laki di sampingnya. Dengan cepat Kalin menurunkan volume lagunya untuk mendengarkan apa yang diucapkan oleh laki-laki bernama Janu itu.
Janu melirik earphone yang sudah terpasang di telinga Kalin. "Eh maaf, saya enggak sadar kalau mbaknya lagi pakai earphone. Lanjutkan saja, Mbak, nggak apa-apa."
"Nggak apa-apa, Mas. Saya minta maaf tadi nggak dengar. Mas barusan ngomong tentang apa ya?"
Janu tersenyum, ia sedikit merasa tidak enak. "Saya tadi mau bertanya rekomendasi buku. Kebetulan saya juga sangat menyukai buku, karena Mbak Kalina sepertinya suka sekali membaca buku."
"Oooh... kalau itu saya punya banyak rekomendasi. Mas Janu suka membaca buku seperti apa?" sahut Kalin. Berbeda dari sebelumnya, kali ini ia memiliki perasaan antusias.
"Saya bisa membaca semua. Sepertinya selera buku kita sama."
Dari tempat duduknya, Kalin bisa mencium wangi manis vanila dipadukan sedikit spicy dan sentuhan woody amber. Kalin mengakui bahwa ia menyukai wangi tersebut.
"Belakangan ini saya lagi suka contemporary fiction sih. Salah satunya yang paling menarik milik Satoshi Yagisawa, nama bukunya Days at the Morisaki Bookshop. Mas sudah pernah baca?"
Janu melempar senyum. "Ohh... milik Satoshi. Saya kemarin baru saja menyelesaikan buku itu, tapi untuk sekuel keduanya belum. Tapi untuk yang pertama memang menarik sih, karena kita jadi diberikan sebuah gambaran bahwa hidup manusia sering bergerak dalam ritme yang kecil, ambigu, dan membosankan."
Kalin tersenyum. Dia langsung bersitatap dengan mata Januarta. Diam-diam Kalin mengagumi laki-laki yang ia temui hari ini. Jarang sekali ia menemukan orang yang membaca buku milik Satoshi.
"Setuju sih, Mas. Kalau buat sekuelnya juga bagus kok, karena sudah berfokus pada Takako menjalani hidup setelah mulai pulih."
"Kira-kira ceritanya happy ending atau sad ending nih, Mbak?"
Wajah Kalin berseri-seri. "Bisa dibilang relatif happy ending sih, Mas. Happy ending-nya tetap konsisten dengan gaya seri Morisaki, realistis. Jadi ending-nya seperti penerimaan, pertumbuhan, dan rasa bahwa karakter-karakternya sudah bergerak ke arah yang baik secara emosional."
"Kalau dari Mbak Kalin, tempat seperti apa yang terasa seperti Morisaki Bookshop?"
Kalin berhenti sebentar dan Janu membiarkan itu, seolah memberikan Kalin jeda untuk memikirkan baik-baik pertanyaan barusan.
"Ada sih, Mas. Toko kopi favorit saya. Saya sering sekali mampir ke tempat tersebut, merasa nyaman dengan orang-orang di dalamnya. Meski saya tidak kenal dengan orang-orang di dalamnya, tapi perjumpaan saya dengan beberapa orang yang sama di kafe itu membuatnya tidak menjadi tempat asing lagi. Seperti menemukan ruang yang terasa familiar dan menenangkan. Kalau masnya?"
"Wah," sahut Januarta takjub. "Kalau begitu sama. Saya di Jakarta juga ada toko kopi favorit saya yang tempatnya seperti Morisaki Bookshop."
Kalin menanggapi dengan tersenyum, tidak berniat bertanya di mana lokasi kafe tersebut untuk menghargai privasi laki-laki itu.
"Terima kasih ya, Mbak Kalina. Saya akan membeli sekuel keduanya. Maaf mengganggu. Mbak Kalina bisa melanjutkan mendengarkan musik."
Terbit senyum di wajah Kalin, menandakan bahwa ia tidak terganggu sama sekali. Kalin juga tidak bisa menjelaskan kenapa ia sampai merasakan perasaan antusias pada dirinya untuk sebuah pembahasan buku dengan orang asing.
Tapi memang, orang asing selalu terlihat lebih menarik.
Sebab yang tampak hanyalah cerita dan serpih tragedi, tanpa campur tangan prasangka. Kita bisa merasa dekat hanya dengan mengetahui sedikit tentang mereka, tanpa harus benar-benar mengenal siapa mereka sebenarnya.
Pukul 11.45 pesawat landing di bandara soekarno hatta jakarta. Kalin mulai memasukan beberapa barang barang ke dalam tote bag miliknya, kemudian ia berdiri dari duduknya.
"mau saya bantu lagi untuk menurunkan kopernya?" Tawar Januarta.
"Eh, boleh mas, maaf ya saya merepotkan lagi"
Januarta hanya tersenyum, kemudian laki laki itu dengan mudahnya mengambil koper milik Kalin.
"Terimakasih banyak ya mas"
"saya juga terimakasih karena sudah direkomendasikan sebuah buku, sampai ketemu di lain waktu mbak Kalina, hati hati di jalan"
Kalin terdiam. Duh, mendadak Kalin menjadi menyesal telah berbohong kepada Januarta perihal namanya. Bagaimana kalau laki laki itu mengetahui namanya aslinya?, walaupun namanya hanya ditambah dengan dua huruf, namun tetap saja, Kalin merasa seperti menjadi tokoh jahat disini.
Sudah lah. Memangnya dirinya akan bertemu lagi dengan laki laki itu? tidak kan?.
—
"Friendly kayaknya dia, Kal. Makanya bisa ajak kamu ngobrol sesantai itu. Emang kalian ngobrolin apa aja?" ucap Kaelan.
Siang ini, ketika sampai di Jakarta, Kalin dijemput oleh kakak laki-lakinya. Saat sudah berada di mobil, Kalin langsung menceritakan semua kejadian di pesawat tadi.
Isi kepala Kalin kembali pada momen di mana satu interaksi diikuti interaksi selanjutnya dengan Januarta. "Kita bahas soal buku sih, Kak. Awalnya dia juga baca buku Keigo Higashino, terus berentet membahas satu buku dengan penulis yang berbeda. Tapi anehnya kayaknya kita punya selera yang sama soal buku."
Kaelan menyeritkan dahinya. "Aneh? Kenapa aneh?"
"Ya kan dia orang asing, Kak. Biasanya orang asing itu terasa jauh, random, dan enggak memiliki keterkaitan hidup dengan kita. Jadi ketika tiba-tiba ada orang asing yang bukan cuma tahu soal buku yang aku baca, tapi ternyata mengerti seisinya, rasanya seperti mengalami pattern interrupt, memiliki bentuk baru dari rutinitas sosial kita," jelas Kalin.
Sambil mengarahkan setirnya untuk berbelok, Kaelan tersenyum. "Iya, namanya juga kita hidup pada satu dunia. Sebetulnya kita pasti sering sekali dipertemukan manusia melalui minat yang sama, cuma biasanya bagian itu nggak terlalu banyak kita sadari. Bedanya, kali ini pertemuan kamu sama laki-laki itu terasa nyata karena saling berinteraksi. Emang kamu nggak kenalan?"
Kalin berpikir sejenak dan kemudian ia menjawab dengan kebohongan. "Nggak, kita cuma ngobrol aja tadi."
"Yaudah nggak apa-apa. Tapi kamu senang nggak ketemu orang yang punya selera yang sama kayak kamu?"
Kalin menoleh ke arah Kaelan. "Senang sih, soalnya jarang banget ketemu orang yang suka baca buku-buku internasional."
"Emang dia gimana orangnya?"
Kalin kembali mengingat-ingat. "Hmmm, kayaknya dia seumuran sama Kakak, deh. Dia ceritanya sih kalau selesai dinas dari Malang dan harus kembali ke Jakarta lagi."
Dahi Kaelan kembali menyerit. "Oh iya? Masa sih, Kal?"
Namun sebelum Kalin menjawab, dering telepon ponsel Kaelan berbunyi. Sepertinya itu merupakan klien yang menelepon laki-laki itu. Akhirnya Kalin mengurungkan niat untuk melanjutkan obrolannya dan memberikan ruang untuk kakaknya.
Ucapan Kaelan tadi menggelayut di benak Kalin.
"Bedanya, kali ini pertemuan kamu sama laki-laki itu terasa nyata karena saling berinteraksi."
Kalimat itu terus berulang di benak Kalin.
Kalin memandangi jalanan Jakarta dari balik jendela mobil siang ini. Lalu lintas padat seperti biasa, dan orang-orang berjalan tergesa dengan urusan mereka masing-masing. Semuanya terasa berjalan seperti biasanya, sementara suara Kaelan berbicara dengan kliennya terdengar samar di kursi depan. Kalin memilih diam. Kepalanya terlalu sibuk mengulang percakapan di pesawat tadi.
Mungkin karena sudah terlalu lama Kalin hidup pada rutinitas yang sama.
Bangun pagi. Kuliah. Membaca buku, mendengarkan musik, dan sesekali pergi ke toko kopi favoritnya, lalu pulang untuk istirahat. Di tengah-tengah rutinitasnya yang biasa saja, tiba-tiba hari ini muncul satu tokoh asing yang memiliki selera yang sama dengan dirinya.
Bunyi notifikasi pada ponselnya membuat Kalin tersadar dari lamunannya. Ia melihat notifikasi pop-up pada layar ponselnya. Ternyata Anna mengirim pesan untuk dirinya.
Kalin menghela napasnya. Kan tidak salah dirinya menggunakan nama samaran. Itu justru hal yang menurutnya paling menarik.
Kalin membaca ulang dua pesan Anna. Ia menjadi terdiam sebentar, seolah menyadari sesuatu.
Apa iya memang dia terlihat seragu itu? Apa iya laki-laki barusan yang ia temui sebetulnya memang menarik di matanya?
Masa sih? Enggak kok. Nggak begitu.
Nggak begitu karena Kalin merasa bahwa dia tidak begitu kenal dengan laki-laki itu. Mana mungkin bisa membuat tertarik tiba-tiba? Nggak ada yang spesial dan memang seharusnya nggak ada.
Tapi kalau memang sesederhana itu, kenapa dua pesan dari Anna membuat Kalin terdiam dan menimbang-nimbang tentang dirinya sendiri?
.jpg)
.png)
Komentar
Posting Komentar