5. Terbayang di kepala.

 


Pukul setengah sembilan pagi. Hari ini merupakan pitching film Silaturasa milik anak-anak Niskala. Kalin sudah berada di dalam mobil bersama Pak Tanto dengan sandwich di tangannya dan beberapa lembar HVS yang berisi materi pitching. Pagi ini Jakarta terlihat lebih mendung dari biasanya. Sepertinya akan turun hujan.

"Pak Tanto sudah sarapan? Kalau belum, mau roti sandwich saya? Saya masih ada satu lagi."

Tanto melirik Kalin dari spion tengah mobil. "Ndak usah, Non. Saya sudah sarapan kok tadi. Buat Non aja, dimakan pas siang nanti. Kan habis presentasi pasti kelaparan, Non."

Kalin kemudian menjawab dengan anggukan kepalanya dan melanjutkan membaca materinya lagi. Sebetulnya Kalin sudah hafal di luar kepala, namun tetap saja perasaan gelisah tersebut belum kunjung hilang. Akan selalu seperti ini perasaan Kalin ketika akan melakukan pitching filmnya dan berhadapan dengan dosen-dosen kampusnya. Perasaan gelisah itu akan sirna ketika ia sudah menyelesaikan pitching.

Pukul 9 lewat dua puluh menit. Mobil yang membawa Kalin sudah berada di parkiran kampus. Terlihat sudah begitu ramai mobil terparkir. Kalin segera membereskan barang-barangnya, memasukkan kotak bekal miliknya dan juga beberapa kertas materi miliknya, lalu berpamitan dengan Pak Tanto.

Kalin berjalan menuju tempat yang digunakan pitching audio visual. Sambil berjalan ke arah dome, Kalin membuka ponselnya. Terlihat grup Niskala sudah ramai dengan obrolan mereka dan ternyata anak-anak Niskala sudah berada di sana. Kalin mempercepat langkah kakinya sembari mendengarkan lagu "Backburner" milik NIKI yang sudah ia putar sejak keberangkatannya tadi menuju kampus. Ini juga merupakan bagian yang Kalin suka dalam hidupnya, mengulang satu lagu yang sama berkali-kali sampai ia merasa bosan.

Hingga langkah kakinya sudah dekat dengan dome, Kalin memperlambat langkahnya. Dari kejauhan ia bisa melihat anak-anak Niskala sudah terlihat begitu sibuk memakai kain pada pinggang mereka. Inilah yang terjadi bila melakukan pitching bersama dosen. Para mahasiswa diberikan kebebasan dalam berpakaian. Seperti hari ini, tim Niskala menggunakan kain jarik sesuai dengan aturan yang ada di Ngawonggo. Tim Niskala sudah sepakat menggunakan kain jarik tersebut sebagai simbol Ngawonggo dan dililitkan di pinggang mereka. Selain itu, Pandu, Wisnu, dan Surya memberikan tambahan blangkon di kepala mereka masing-masing.

"Gimana? Udah siap belum, Lin?" Wisnu bertanya sambil membenarkan kain jarik milik Pandu.

"Sebenernya gue gugup sih. Gimana kalau lo aja yang gantiin gue, Nu?"

Wisnu tertawa. "Boleh, tapi di PPT ganti tugas gue jadi sutradara ya," ujar Wisnu.

Kalin hanya merespons dengan helaan napas panjang.

"Eh, hari ini yang lihat presentasi kita ada Pak Januardi ya. Ih serius, gue takut," ujar Sekar.

Bapak Januardi adalah dosen Ilmu Komunikasi yang dikenal killer, suka membantai mahasiswa dengan pertanyaan-pertanyaan yang cukup susah. Dan bagian paling menyebalkan adalah beliau jarang sekali memberi ampun kepada mahasiswa yang melakukan kesalahan.

Ngomong-ngomong soal Januardi, Kalin jadi teringat satu nama yang baru-baru ini ia kenal. Seketika seolah olah seperti memutar sebuah suara bariton dari kursi 7B di kepalanya.

Yaitu Januarta.

Ah, nama yang hampir sama.

Januarta dan Januardi.

Sama-sama memiliki nama Janu.

Eh, tapi kenapa Kalin jadi teringat kembali dengan laki-laki itu?

"Tapi lo udah hafal materinya kan, Kal?" tanya Pandu.

Kalin tersadar dari pikirannya, kemudian Kalin menganggukkan kepalanya. "Udah, Pandu. Meragukan itu ya gue di mata lo?"

"Ya enggak, memastikan aja. Btw, ini bakalan jadi pitching terakhir kita bareng-bareng ya? Gue bakal kangen sih satu project film bareng sama kalian lagi," ujar Pandu.

Surya langsung menyahuti. "Eh iya ya, habis ini kita bakal masuk semester baru dan menyelesaikan misi terakhir sebagai mahasiswa akhir, alias skripsian."

"Emang kalian udah nentuin judul skripsi kalian?" tanya Sekar.

Sontak seluruh anak-anak Niskala menggelengkan kepala mereka. Sepertinya memikirkan judul untuk skripsi memang sudah semenakutkan itu. Lantas bagaimana dengan isinya?

"Nggak apa-apa, hadapi aja. Sesuatu yang terlihat menakutkan, kalau berani kita hadapi sebetulnya tidak semenakutkan itu kok," ucap Wisnu.

Kalin kemudian duduk di samping Pandu yang sedang menggeser layar iPad-nya, mengecek ulang kembali hasil presentasi tim mereka. "Gimana? Udah bener semua, Ndu?" tanya Kalin.

Pandu menganggukkan kepalanya. "Udah kok ini, nggak ada yang salah, nggak ada yang typo juga. Aman. Lo kenapa? Dari tadi muka lo kayak orang gelisah. Masih ragu sama hasil lo sendiri?"

Kalin menghela napasnya. Walaupun ini sudah kesekian kalinya Kalin berurusan dengan film dan tulisannya, rasa gugup itu tetap saja menyelimuti hati dan pikirannya. Berurusan dengan karya yang ia buat memang bukan hal baru, akan tetapi fase dia tidak percaya diri seperti ini akan terus berulang dalam hidupnya di beberapa waktu. Pandu yang sudah menjadi partner terbaiknya dalam berkarya selalu bisa mengetahui Kalin yang sedang berada di fase kembali tidak percaya diri.

"Ya gue takut aja. Kalau nilai kita jelek gimana? Ini kan first time gue jadi sutradara, Ndu."

"Tuh kan lo nggak pede lagi. Kal, lo nggak perlu mikir sejauh itu atas kerja keras lo. Nggak perlu mikirin hal-hal yang nggak bisa lo kendalikan. Mau jelek atau enggak, mau mereka suka atau enggak, itu semua udah di luar kendali lo. Lagian kita semua juga udah tahu lo se-bekerja keras apa selama ini. Jadi nggak usah khawatir, kita lewati pitching terakhir ini bareng-bareng sama Niskala."

Kalin menyetujui ucapan teman satunya itu. Ia menundukkan kepala pelan sambil tersenyum tipis, mencoba menerima setiap kalimat Pandu satu per satu ke dalam pikirannya yang sejak tadi penuh dengan kegelisahan. Kadang memang sesederhana itu, ia hanya butuh diingatkan kalau tidak semua hal harus ditanggung sendiri. Selama beberapa bulan terakhir, Kalin terlalu sibuk memastikan semuanya sempurna sampai lupa kalau film ini tidak lahir hanya dari dirinya seorang. Ada Pandu, ada tim Niskala, ada orang-orang yang ikut begadang, revisi naskah sampai pagi, dan tetap percaya pada ide gilanya bahkan ketika Kalin sendiri mulai meragukannya.

"Iya juga ya. Gue kayak terlalu fokus sama kemungkinan gagal sampai lupa kalau prosesnya aja udah sejauh ini."

"Nah, gitu dong," sahut Pandu cepat sambil menyenggol bahu Kalin pelan. "Lo tuh kadang jadi musuh terbesar buat diri lo sendiri."

Kalin terkekeh kecil mendengar itu. Beberapa saat kemudian, tim Niskala dipanggil untuk memulai pitching film Silaturasa mereka. Kalin bersama tim Niskala berjalan masuk ke dalam ruang. Di dalam ruangan itu sudah ada beberapa dosen dan asisten praktikum audio visual.

Setelah memastikan PPT terlihat di layar dengan baik, tim Niskala memulai pitching tersebut.Dengan kepercayaan diri yang Kalin miliki, Kalin mulai bercerita tentang Silaturasa yang sedang ia kerjakan.

"Program ini kami angkat dari keresahan sederhana tentang banyaknya tempat penuh sejarah dan makna yang perlahan mulai dilupakan, terutama oleh anak muda seusia kami. Karena itu, lewat Silaturasa, kami mencoba menggabungkan konsep travel dan kuliner dengan perjalanan emosional dua tokoh yang mencari arti dari 'asah, asih, asuh' di Tomboan Ngawonggo.

Lewat karakter Inasya dan Santoso, kami ingin menunjukkan kalau perjalanan memahami hidup kadang datang dari tempat-tempat kecil yang jarang diperhatikan orang. Silaturasa bukan cuma tentang kuliner, tapi tentang bagaimana manusia belajar memahami cukup, memahami budaya, dan memahami dirinya sendiri.

Sebagai sutradara, saya ingin penonton nggak cuma melihat makanan atau tempat wisata, tapi juga merasakan suasana tenang, hangat, dan sederhana yang dimiliki tempat ini. Makanya visual yang kami bangun lebih banyak menggunakan tone natural, pengambilan gambar yang intimate, serta ambience alam supaya penonton bisa ikut merasa seperti sedang rehat dari hiruk pikuk kehidupan."

Setelah Kalin berhenti berbicara, kini giliran Pandu sebagai produser menjelaskan hal tersebut.

"Dalam proses produksi, kami membagi pekerjaan sesuai job desk masing-masing supaya alur kerja lebih terorganisir. Tim kami terdiri dari sembilan orang dan seluruh anggota terlibat aktif mulai dari tahap riset, penulisan, survei lokasi, sampai technical meeting sebelum shooting.

Kami sadar program ini bukan program dengan konsep yang besar secara produksi. Tapi justru karena itu kami berusaha memaksimalkan kekuatan cerita, visual natural, dan kedekatan emosional supaya Silaturasa tetap punya kesan yang membekas bagi penonton. Karena pada akhirnya, tujuan kami sederhana. Kami ingin penonton pulang bukan cuma membawa informasi tentang tempat ini, tapi juga membawa rasa."

Dan terakhir, setelah Pandu menyelesaikan penjelasannya, ia mempersilakan Wisnu untuk maju ke depan. Wisnu yang sejak tadi duduk sambil memegang laptop akhirnya berdiri dan mengambil alih presentasi.

"Karena program ini mengangkat konsep semi dokumenter dengan nuansa healing, culture, dan culinary travel, pendekatan visual yang kami gunakan lebih mengutamakan natural movement dan ambience lokasi. Jadi selama proses pengambilan gambar nanti, kami akan banyak memakai teknik handheld halus dan slow movement supaya penonton merasa lebih dekat dengan perjalanan karakter."

Di layar, beberapa referensi tone warna bernuansa hijau dan cokelat tanah mulai muncul. Wisnu menunjukkannya satu per satu.

"Untuk tone warna, kami memilih warna yang cenderung warm dan earthy karena ingin membangun kesan hangat, tenang, dan sederhana sesuai dengan filosofi Tomboan Ngawonggo itu sendiri. Selain itu, pencahayaan alami juga akan lebih banyak kami manfaatkan supaya suasana tempat tetap terasa autentik."

Ia kemudian berpindah ke slide storyboard.

"Dari sisi framing, kami menggunakan banyak medium shot dan close up, terutama saat talent berinteraksi dengan makanan, lingkungan, maupun ketika momen refleksi seperti menulis diary dan melukis. Tujuannya supaya emosi dari tiap adegan bisa lebih terasa dan penonton nggak cuma melihat aktivitasnya saja, tapi juga ikut masuk ke suasana yang sedang dibangun."

Wisnu sempat tersenyum kecil sebelum melanjutkan.

"Visual di Silaturasa memang kami buat tidak terlalu ramai. Karena menurut kami, tempat seperti Tomboan Ngawonggo justru punya kekuatan di kesederhanaannya. Jadi kami ingin kamera bekerja seperti mata penonton mengamati, mengikuti perjalanan, dan ikut menikmati tiap prosesnya secara perlahan."

Setelah penjelasan selesai, ruangan sempat hening beberapa detik setelah penjelasan terakhir dari Wisnu selesai. Salah satu dosen penguji yang sejak tadi memperhatikan sambil mencatat sesuatu akhirnya meletakkan pulpennya di atas meja. Beliau menyandarkan tubuhnya ke kursi sebelum menatap tim Niskala bergantian.

"Secara konsep, saya melihat kelompok kalian punya identitas yang cukup jelas," ujarnya tenang. "Kalian tahu mau membawa penonton ke suasana seperti apa, dan itu sudah terasa dari penjelasan sutradara, produser, sampai videographer tadi."

Kalin yang duduk paling ujung langsung menegakkan posisi duduknya tanpa sadar.

"Tema sederhana seperti ini sebenarnya cukup sulit dibawakan," lanjut dosen itu. "Karena kalau eksekusinya salah, hasilnya bisa terasa membosankan. Tapi saya lihat kalian cukup paham bagaimana membangun ambience dan emosi lewat visual maupun perjalanan cerita."

Dosen lainnya ikut membuka lembar production book mereka.

"Saya suka bagian filosofi 'asah, asih, asuh' yang dijadikan benang merah cerita. Ada pesan budaya yang ingin disampaikan tanpa terasa terlalu menggurui. Itu nilai plus."

"Tapi ada beberapa catatan," lanjut dosen tersebut. "Di beberapa bagian pacing masih agak lambat, terutama di scene observasi lingkungan. Kalian harus hati-hati karena penonton bisa kehilangan fokus kalau durasi ambience terlalu panjang tanpa perkembangan informasi."

"Baik, Pak," jawab Kalin sambil mengangguk.

"Lalu untuk talent," dosen lain ikut menambahkan, "chemistry mereka sebenarnya sudah bagus dan natural. Itu jadi kekuatan program kalian. Tapi di beberapa dialog masih terlihat seperti membaca arah, belum sepenuhnya cair."

Pandu langsung mencatat cepat poin itu di bukunya.

"Overall," dosen pertama menutup production book pelan, "hasil kalian sudah cukup matang untuk ukuran produksi praktikum. Yang paling terasa adalah kalian punya niat membangun karya yang hangat dan punya makna, bukan sekadar memenuhi tugas. Itu yang biasanya bikin sebuah program lebih diingat. Selamat ya atas penyelesaian project terakhir kalian."

Wajah Kalin terlihat begitu berseri-seri. Ternyata betul kata Wisnu bahwa manusia tugasnya hanya hadapi saja. Menghadapi segala sesuatu yang terlihat menakutkan. Kalau berani kita hadapi, sebetulnya tidak semenakutkan itu kok.

—-

Selepas pitching, Kalin bersama teman-teman Niskala beristirahat di kantin kampus. Hari ini Pak Produser alias Pandu mendadak mentraktir anak-anak Niskala nasi goreng sebagai tanda kemenangan kelompok mereka. Namun bagian paling mengejutkan bagi Kalin hari ini adalah bertemu dengan Naren.

Belakangan ini Kalin cukup susah untuk menghindari Naren, terutama setelah menyelesaikan syuting Silaturasa kemarin. Naren menjadi lebih dekat dengan teman-temannya, membuat laki-laki itu dengan mudah mengetahui jadwal pitching hari ini.

Naren duduk di samping Kalin. "Gimana, Kak, pitching-nya hari ini? Hasilnya bagus enggak?"

Aksi Naren yang duduk di samping Kalin membuat Kalin tersadar bahwa Naren menggunakan parfum baru. Ketika aroma parfum tersebut masuk ke dalam indra penciuman Kalin, membuatnya langsung sukses teringat kepada tokoh asing yang baru ia kenal kemarin di dalam pesawat. Apakah ini yang dimaksud menyimpan seseorang di dalam parfum? Namun mengapa harus laki-laki yang baru saja ia kenal kemarin? Mengapa wangi laki-laki itu langsung teringat di kepalanya? Apakah memang tanpa Kalin sadar, laki-laki itu sejatinya memang menarik?

Harum parfum milik Naren begitu sama dengan milik Januarta.

Sial, kenapa dia jadi teringat laki-laki itu lagi?

Kalin menganggukkan kepalanya. "Baik kok. Sempat gugup sih tadi, tapi alhamdulillah gue bisa jelasin semuanya, dibantu sama Pandu sama Wisnu juga."

"Eh, tapi gue akuin sih, presentasi lo oke banget, Lin. Beda banget dari project sebelumnya," kata Sekar sambil melahap nasi gorengnya.

Naren menunjukkan senyum bangganya. "Keren!" Naren mengacungkan jempol.

Kalin hanya menganggukkan kepalanya dengan gerakan kaku dan menahan senyumnya.

"Kak, kalau mau senyum, senyum aja. Jangan ditahan. Lo cantik kok kalau senyum. Cantik banget."

Kalin tidak mampu lagi menahan senyumnya. Ia langsung tersenyum dengan agak malu-malu.

"Alah alah, salting lo, Kal!" seru Surya sambil melemparkan tisu yang baru ia ambil kepada Kalin.

Naren tertawa. "Happy nggak lo, Kak, hari ini?"

"Happy banget gue, Ren," kata Kalin. "Tadi gue sempat takut sama agak gugup sama pitching hari ini. Mungkin karena gue yang jadi sutradara kali ya, jadi rasa gugupnya lebih mendominasi daripada pitching-pitching sebelumnya," lanjut Kalin.

"Selamat ya, Kak, udah menyelesaikan produksi dan pitching terakhir lo. Enggak tahu kenapa gue bangga banget, tapi seriusan lo keren sih. Semua konsep yang udah lo buat itu ternyata semakin buat gue jadi terkagum-kagum sama lo. Tapi jangan sering-sering buat gue kagum gini ya, Kak," Naren berkata kembali sambil menyentuh bagian jantungnya.

Dahi Kalin menyerit heran. "Kenapa emang?"

"Enggak baik buat gue. Enggak baik buat gue yang belum tentu jadian sama lo," sahut Naren sambil tertawa.

"Dih, gombal mulu lo bisanya, Ren," sahut Kalin.

Naren terbahak. "Eh Kak, tapi gue mau tanya soal buku dong sama lo. Lo suka baca buku kan?" ujar Naren kembali memastikan.

Kalin menganggukkan kepalanya kepada Naren. "Iya, mau tanya buku apa?"

"Gue kemarin ke toko buku, terus ngelihat satu buku yang kelihatannya menarik banget. Lo pernah baca Days at the Morisaki Bookshop enggak?" tanya Naren sambil mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan cover buku tersebut.

Kalin terdiam sejenak. Ingatannya kembali memutar percakapan tentang buku Satoshi Yagisawa di pesawat dan aroma vanila yang sejak tadi menghantui pikirannya. Ia merasa terjebak dalam dilema batin, terus memikirkan orang asing yang mungkin tak akan pernah ditemuinya lagi. Kalin dibuat bingung hari ini. Seharian ini ia dibuat mengingat laki-laki itu sebanyak dua kali. Parfum dan buku.

"Kak? Kok bengong sih? Kenapa? Ada yang dipikirin?"

Kalin sontak menggelengkan kepalanya. "Eh, enggak kok. Pernah kok, gue ada sequelnya juga. Lo mau beli?"

Naren menggelengkan kepalanya. "Enggak, takut nggak cocok. Tapi gue boleh pinjem nggak? Gue penasaran banget soalnya."

Kalin kemudian menganggukkan kepalanya. "Boleh kok. Mau lo pinjem kapan?"

Naren tampak berpikir sebentar. "Kalau besok gimana? Sekalian kita berdua keluar, mau enggak? Episode perkenalan kita belum dimulai. Gue mau banyak tau tentang lo kak, mungkin sebagai teman dulu? "

 Gue mau banyak tau tentang lo kak, mungkin sebagai teman dulu? "


Komentar

Postingan Populer