7. Yang belum pernah di mulai.

 

Hari ini setelah kelas selesai tepat pukul sepuluh pagi, Kalin langsung memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Namun kali ini teman dekatnya, yaitu Anna, juga turut ikut bersamanya. Biasanya memang seperti ini. Bila jam kuliah tidak terlalu padat, Anna akan berkunjung dan pulang di sore hari.

Anna meletakkan totebag miliknya di lantai, lalu merebahkan badannya di sofa. "Eh, gue masih nggak nyangka kita udah di tahap jadi mahasiswa akhir. Untung kita satu dosen pembimbing, Kal. Coba kalau enggak, sedih banget gue pasti."

Kalin menganggukkan kepalanya sambil membereskan make up miliknya yang berantakan di atas meja akibat tadi pagi ia sangat terburu-buru. "Untungnya kita dapat Pak Novin, jadi bisa enjoy bimbingan sama beliau."

"Emang lo udah ketemu judulnya apa, Kal? Gue udah sih beberapa, tapi belum gue ajuin. Aslinya tadi pengen banget gue ajuin, tapi tadi masih kelas perkenalan."

Kalin merebahkan badannya di tempat tidur miliknya. "Sama kok, gue juga udah ada beberapa opsi. Rencananya mau gue konsultasiin sama kakak gue, setidaknya gue nanti nggak bawa tangan kosong banget."

Kedua mata Anna seketika terbuka saat mendengarkan nama yang baru saja disebut oleh Kalin. Perempuan itu langsung bangkit dari sofanya dan mendekat ke arah Kalin.
"Kakak lo masih di kantor ya?"

Kalin melirik Anna. Inilah Anna, teman dekatnya sejak masa sekolah menengah pertama. Pertanyaan barusan sudah pasti tertuju kepada Kaelan. Sudah menjadi rahasia umum bahwa Anna semenjak memasuki perkuliahan sangat menyukai kakak laki-lakinya itu. Menurut Anna, Kaelan adalah laki-laki dewasa yang sangat masuk pada kriterianya, sempurna pokoknya.

"Menurut lo? Masa jam segini dia di rumah, Na?" Kalin bertanya kembali kepada Anna, kemudian ia bangkit dari posisi tidurnya menjadi duduk bersilang.

Anna tidak langsung merespons, namun wajahnya terlihat begitu mengenaskan. Mengenaskan karena terlanjur jatuh cinta dengan tokoh yang bahkan meliriknya saja tidak.

"Tapi dia masih jomblo kan, Kal? Dia belum pernah bawa cewek ke rumah."

Anna senang bahwa Kaelan tidak memiliki pasangan, namun kesenangan itu hanya sesaat karena dirinya secara sadar tidak tahu bagaimana kehidupan Kaelan. Bisa saja laki-laki itu sedang menyukai salah satu perempuan dan mengalami struggle yang serupa. Belum lagi Kaelan merupakan kakak laki-laki dari sahabatnya. Nanti kalau misalnya mereka berakhir menjadi asing bagaimana?.

"Sebaiknya lo confess deh, Na. Coba deh lo ingat-ingat lagi, lo udah suka kakak gue dari tiga tahun yang lalu loh. Hebatnya lo enggak pernah nunjukin rasa suka itu, cuma sekadar follow Instagram-nya doang. Confess deh, Ann, confess," usul Kalin.

"Sebaiknya menurut lo, Kal? Duh. Confess tuh nggak sesederhana itu, Kal. Kalau sesederhana itu dan memang hal itu jadi opsi terbaik, gue udah ngelakuin itu dari dulu. Terus kalau gue confess apa yang bakal terjadi?" tanya Anna. "Terus kalau dia enggak suka sama gue gimana, Kal? Terus kalau misal nanti kita papasan dan jadi canggung gimana? Terus kalau kakak lo anggap gue cewek aneh gimana?"

"Dia pasti indah banget di kepala lo, sampai-sampai karena terlalu indah lo setakut itu buat wujudin itu ke dalam realita lo."

"Ah, diem lo, Kal. Lo sendiri gimana sama Naren? Jadi ketemu kan lo kemarin?"

Kalin menghela napasnya. "Jadi kok. Gimana ya? Gue beneran enggak tertarik sama dia, Na. Dia tuh emang masih punya sisi dewasa sih, tapi gue masih punya sisi ragu sama cowok itu."

Anna menatap Kalin. "Karena dia jauh lebih muda dari lo? Itu kan? Itu kan salah satu alasan yang buat lo ragu sama Naren."

Pernyataan dari Anna membuat Kalin menganggukkan kepalanya. Memang, karena tipe Kalin sendiri adalah laki-laki yang lebih tua darinya, matang, dan suka membaca buku.

"Kalau sama yang kemarin?"

Kalin mengerutkan dahinya. Maksudnya kemarin? "Hah? Kemarin? Siapa kemarin? Perasaan gue cuma ketemu Naren aja, Na."

Anna menggelengkan kepalanya. "Maksud gue yang lo nggak sengaja temuin di pesawat?"

Kalin melongo. Kenapa dari sekian banyak hal yang bisa Anna tanyakan kepada dirinya, kenapa harus bertanya soal laki-laki asing itu?.

"Ya enggak ada apa-apa lah, Na. Kita kan cuma dua orang asing yang berada di satu tempat yang sama. Lo mau ngarep gue tukeran nomor gitu sama laki-laki itu?"

Anna mengangguk. "Ya siapa tahu dia tertarik sama lo. Lagian ya, kalau dilihat-lihat dia tuh tipe lo banget tau, Na. Gue yakin dia pasti juga suka baca buku kayak lo."

Diam-diam Kalin mengiyakan tebakan Anna. Jujur saja, Kalin tidak bisa membohongi dirinya bahwa laki-laki yang ia temui di pesawat beberapa hari yang lalu itu begitu menarik. Namun Kalin sadar juga bahwa ia harus membatasi isi kepalanya terhadap laki-laki asing yang baru ia temui itu. Sebab orang asing datang tanpa sebuah cerita, tanpa sebuah masalah, tanpa sebuah kenyataan yang cukup untuk membatasi imajinasi kita karena kita hanya bertemu beberapa potong darinya saja.

"Emang waktu lo ketemu dia gimana? Maksud gue obrolan apa gitu? Lo cuma cerita ke gue soal nama palsu yang lo pakai."

Kalin menatap Anna. "Dia orang Jakarta sih, Ann. Terus kita ngebahas buku Morisaki Bookshop itu. Dari situ dia sempat nanya, kira-kira ada nggak tempat yang menurut gue nyaman kayak toko buku itu. Ya tentu gue jawab kalau ada satu tempat favorit gue di Jakarta, dan ternyata orang itu juga punya tempat favorit itu sih. Udah gitu aja. Kita cuma sharing soal buku aja."

"Apa jangan-jangan lo nanti bakal ketemu dia ya, Kal?" tanya Anna. Anna berpikir seperti itu karena ia merasa seperti ada benang merah tak kasat mata pada kedua orang itu. Cerita mereka begitu terasa pas sekali.

"Hah? Ketemu lagi? Enggak lah. Dia kaku banget tau, Na."

"Kok bisa lo bilang dia kaku? Dari cara ngomongnya?"

"Iya, kayak kakak gue ngomong sama lo. Persis banget."

Anna terkekeh. "Mungkin gara-gara baru ketemu kali. Coba nanti di pertemuan selanjutnya."

Kalin menoleh. Wajahnya tampak sedikit kesal. Kesal karena temannya sudah membayangkan kemungkinan yang bahkan belum pernah terjadi "Enggak ya, Na. Enggak ada pertemuan selanjutnya, cukup itu aja daripada lo ngarep gue sama orang asing, mending lo confess sama kakak gue."

Anna memandangi wajah Kalin dengan datar. "Duh Kal, gue juga mau banget sama dia, Di zaman sekarang siapa sih yang enggak naksir sama Kaelan Adhitama Khaizure? Udah ganteng, sukses, pinter, tinggi, sayang banget sama keluarga dan—"

"Dan apalagi, Anna?"

Seketika Kalin menoleh ke arah pintu kamar miliknya yang sudah terbuka dan menunjukkan sosok Kaelan yang berdiri tegap di tengah-tengah pintu tersebut. Sesaat Kalin melirik ke arah Anna yang duduk kaku menghadap dirinya. Kalin juga entah mengapa tidak bisa menyahut apa-apa. Yang ia lakukan justru menggerakkan Anna supaya sadar dan tidak termangu terus-terusan.

Kaelan berjalan memasuki kamar adiknya sambil membawa snack ringan untuk adiknya. Ini sebetulnya permintaan ibunya yang meminta mengantar kemari karena ada keberadaan Anna.

"Bunda buatin cheese platter buat kalian, dimakan ya."

Kalin berusaha menelan mentah-mentah keterkejutannya. "Kok jam segini kakak udah di rumah? Bukannya biasanya sore atau malam?"

Kaelan menatap adik kesayangannya. "Hari ini ada rapat di daerah Kemang, makanya kakak pulang dulu. Mau mandi sekalian ganti pakaian."

Kalin menganggukkan kaku kepalanya, kemudian menatap sahabatnya yang masih menunduk. Sialan dia, bahkan dia tidak berani menatap Kaelan sedikit pun.

"Oke deh, Kakak balik dulu ya. Oh iya, Tadi saya dengar dari balik pintu. Jadi, selama tiga tahun ini Anda cuma berani lihat dari jauh saja, Anna?" kata Kaelan dan kemudian detik selanjutnya ia berbalik menuju pintu kamar dengan Suara langkah kaki yang mantap.

Setelah hilangnya Kaelan dari balik pintu, kini Anna mendongakkan kepalanya untuk melihat Kalin. "Kal...". Diam diam isi kepala Anna sudah membayangkan kemungkinan terburuk atas perasaan nya, isi kepalanya sudah membayangkan bahwa nanti akan memunculkan rasa canggung saat bertemu dengan Kaelan. Jantung Anna berdebar kencang karena perasaan malu dan tidak ketidaksiapannya menghadapi Kaelan yang tiba tiba muncul begitu saja.

Kalin memandangi wajah Anna dengan kasihan. Entah ini bisa disebut keberuntungan atau justru kesialan bagi Anna. Namun dari hari ini Kalin cukup senang karena kakaknya mengetahui perasaan temannya, walaupun tahunya bukan melalui confess. Tapi menurut Kalin, hal yang sudah terjadi itu sangat tepat dengan kondisi Anna yang tidak berani mengungkapkan perasaannya. Sekarang tinggal bagaimana semesta membawa cerita keduanya.

Namun ini lah yang tidak di sadari oleh Kalin dan Anna yaitu sejak tadi obrolan mereka berdua sebetulnya membawa mereka jatuh pada kemungkinan-kemungkinan yang belum pernah diuji oleh kenyataan, dan tanpa sadar bahwa yang mereka kejar bukan orangnya, melainkan cerita yang mereka bangun sendiri di kepala.

Tentang Januarta yang sebetulnya menarik hati Kalin namun dirinya hanya mengetahui beberapa potong darinya saja.

Dan tentang Kaelan yang Anna sukai namun sama hal nya dengan Kalin, Anna tidak mengenal kehidupan Kaelan secara mendalam. Ia menyukai versi Kaelan yang selama ini ia lihat dari kejauhan.

Satu episode lagi kita akan berkenalan dengan tokoh januarta, bagaimana kehidupan janurta, seperti apa januarta

Satu episode lagi kita akan berkenalan dengan tokoh januarta, bagaimana kehidupan janurta, seperti apa januarta. Ikutan terus perjalan kytpd ya, sampai jumpa di minggu depan.

Oh iya teman temen, sampai episode 9 ini apakah ada kritik atau saran yang membangun, aku selalu berusaha mendengarkan kritik dan saran dari pembaca aku, terima kasih ya sudah membaca cerita ini, jangan lupa vote cerita ini ya.


Komentar

Postingan Populer